Trump akan Menjadi Nama Stasiun Kereta Api di Yerusalem

oleh -82 views
Tembok Barat (kanan) dan Kubah Batu di Kota Tua Yerusalem. Foto: Thomas Coex /AFP/Getty

YERUSALEM | Menteri transportasi Israel mendorong rencana kontroversial untuk memperluas jalur kereta api berkecepatan tinggi ke Tembok Barat,Yerusalem.

Dilansir dari The Guardian,Rabu (27/12/2017),Israel berencana Memberi nama Stasiun Kereta cepat tersebut dengan nama Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Proposal Yisrael Katz untuk stasiun “Donald John Trump”, yang dalam tahap perencanaan awal, melibatkan pembangunan dua stasiun bawah tanah dan Menggali lebih dari dua mil (3 km) terowongan 50 meter di bawah Yerusalem tengah dan di bawah Kota tua yang Politis dan historis sensitif .

Juru bicara Kementerian transportasi, Avner Ovadia, mengatakan bahwa proyek tersebut diperkirakan menelan biaya lebih dari $ 700 juta atau (sekitar Rp 9,4 triliun). dan jika disetujui, akan memakan waktu empat tahun untuk menyelesaikannya.

Stasiun utama Yerusalem saat ini terletak di pinggiran selatan kota, sementara stasiun kereta api utama yang lama berada di dekat pusat kota, dan telah diubah menjadi area bar dan restoran.

“Tembok barat adalah tempat paling Suci bagi orang-orang yahudi, dan saya telah memutuskan untuk memberi nama stasiun kereta yang menuju ke sana dengan nama Presiden AS” Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada presiden Donald Trump yang telah membuat langkah bersejarah dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Rencana tersebut kemungkinan akan mendapat tentangan dari Masyarakat Internasional, yang tidak mengakui kedaulatan Israel atas Yerusalem timur dan kota Tua, yang merupakan tempat suci bagi Umat Muslim, Kristen dan Yahudi.

Menggali terowongan kereta api ke Tembok Barat juga akan memerlukan penggalian di Kota tua Yerusalem, di mana kepekaan agama dan politik, serta lapisan-lapisan sisa-sisa arkeologi sejarah selama 3.000 tahun.

Ovadia memperkirakan rencana tersebut akan disetujui tahun depan, “tidak ada alasan mengapa kereta ini tidak dibangun,” katanya. “Kami sudah tahu bagaimana menghadapi oposisi yang tidak kalah sulit.”

Katz sebelumnya telah mengusulkan proyek infrastruktur ambisius lainnya, termasuk sebuah pulau buatan di lepas pantai Jalur gaza yang akan berfungsi sebagai udara dan Pelabuhan untuk wilayah Palestina, dan sebuah rel kereta api yang menghubungkan Israel dan Arab Saudi. (Dk)

Sumber : The Guardian, AFP