Serobot Gedung LN PKRI Secara Anarkis, Ketum PPWI Sesalkan Sikap Bakamla

oleh -138 views
Gedung LN PKRI [Net]
Gedung LN PKRI [Net]

JAKARTA | AP–Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) mengungkapkan rasa prihatin dan penyesalannya terkait adanya aksi penyerobotan anarkis yang kembali dilakukan oleh Bakamla terhadap Gedung LN PKRI.

Hal tersebut dikatakan Ketum PPWI Wilson Lalengke, melalui siaran persnya kepada LintasAtjeh.com, Kamis (28/7/2016), menyikapi janji Bakamla yang akan menempuh jalur pendekatan yang baik dan tidak anarkis, namun berbanding terbalik dengan yang terjadi di lapangan.

Wilson yang akrab disapa Shony ini mengungkapkan bahwa beberapa waktu lalu dirinya sudah bertemu dengan Mas Suroyo, Kepala Biro Sarana Bakamla, di kantor beliau, yang memang cukup memprihatinkan. Tambahan lagi, Gedung kantor Bakamla di Jl. Pemuda, Matraman, Jakarta Timur itu segera harus dikosongkan karena akan diambil kembali oleh Pemda DKI Jakarta sebagai pemilik aset tersebut.

“Saya dan Mas Suroyo, kita sama-sama tidak berkepentingan dengan pertikaian yang terjadi antara PKRI vs Setneg soal pengelolaan Gedung PKRI, tempat diproklamasikannya Kemerdekaan Indonesia oleh para founding fathers NKRI sepeninggal Ketua PKRI ke-2 Jusuf Mewengkang,” ungkapnya.

Lanjut dia, saya hanya berharap bantuan Mas Suroyo agar mengendalikan oknum pasukan Bakamla yang menyerobot masuk tanpa koordinasi dan komunikasi dengan Ketua PKRI, atau siapapun disana selama ini, demi menjaga agar tidak terjadinya konflik horisontal yang dipicu oleh arogansi dari pihak-pihak yang bertikai itu. Mas Suroyo janji ke saya bahwa Bakamla akan menempuh jalur pendekatan yang baik, tidak anarkis, dan jika tidak ada titik temu, akan dibawa ke ranah hukum.

“Faktanya, perilaku anak buah beliau di lapangan justru berbeda dengan ucapan komandannya. Pembangkangan anak buah terhadap komandan? Atau, komandan tidak bertaji terhadap anak buah? Saya amat prihatin atas keadaan yang menyedihkan ini,” sindir Shony.

“Saya berharap ada penyelesaian yang arif dan bijaksana dengan mengedepankan norma dan moral tanpa harus berperilaku biadab dan anarkis. Silahkan duduk bersama, ambil jalan terbaik apabila tidak ada titik temu silahkan tempuh melalui jalur hukum. Tapi jangan berbuat semaunya layaknya “PAREMAN” yang tidak tahu aturan dan hukum,” demikian pungkas Wilson Lalengke.[Rls]