Pemerintah Aceh Jangan Hanya Bisa Umbar Janji Alias PHP

oleh -180 views

Laporan | Ahmad Fadil 

Banda Aceh (AD)- Excecutive Direktor Murban Energy Amine Abid dan Gubernur Aceh Nova Iriansyah kembalj membahas tindak lanjut investasi Uni Emirat Arab (UEA) di sektor Pariwisata Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil.

example banner

Pembahasan tindak lanjut investasi tersebut dilakukan setelah sebelumnya pada Senin 21 Desember 2020, Excecutive Director Murban Energy bersama Kepala Dinas Pariwisata Aceh melakukan kunjungan ke Pulau Banyak untuk melihat langsung potensi wisata dan keindahan alamnya.

Potensi keindahan alam Pulau Banyak yang memiliki panorama pulau-pulau kecil yang sangat bagus, pasti akan membuat yang berkunjung terkagum dan ingin kembali lagi. Demikian juga dengan Amine Abid yang sangat terkesan dengan pulau-pulau disana, sehingga mempunyai prospek untuk dikembangkan menjadi daerah destinasi wisata modern.

“Dari kunjungan Excecutive Direktor Murban Energy tersebut, tentu berdampak positif bagi pengembangan sektor pariwisata dan kemakmuran masyarakat. Dengan adanya minat Uni Emirat Arab berinvestasi di Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, maka semua pihak harus mendukungnya. Namun yang paling terpenting adalah, bagaimana kesiapan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten dalam menyediakan infrastruktur yang dibutuhkan para investor demikian juga dengan reformasi birokrasi,” ujar Usman Lamreung, Jum’at 25 Desember 2020 di Banda Aceh.

BACA..  Dukung Vaksinasi Covid -19 di Aceh, BPJS Kesehatan Sinergikan Aplikasi P-Care

Pengamat ini juga mengingatkan Nova Iriansyah tentang kejelasan skema investasi pariwisata UEA. Rencana investasi pariwisata di Pulau Banyak oleh swasta Uni Emirat Arab yaitu Murban Energy perlu direspon dengan cerdas oleh Pemerintah Aceh.

“Jika merujuk pada pernyataan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin, yang menyebutkan bahwa pihak investor akan membangun infrastruktur dan meminta hak pengelolaan destinasi wisata disana, maka besar kemungkinan investasi ini tidak akan berdampak apa-apa bagi masyarakat Singkil (Pulau Banyak),” ungkap Usman Lamreung.

Dikatakan Usman, jika skema investasi seperti ini, maka pengembangan kepariwisataan di Pulau Banyak nantinya akan berpotensi ekslusif, dan tidak menjangkau kepentingan masyarakat dan pelaku usaha pariwisata di Aceh, bahkan sangat mungkin mengarah pada pola “From UEA to UEA”, penyedia jasa pariwisatanya pihak UEA, yang menerima manfaat ekonominya juga pihak UEA.

“Jika ini yang terjadi, maka sama saja Pemerintah Aceh mengundang “Ureung Laen Meukat Bak Lapak Droe” (Orang Lain Jualan di Lapak Sendiri),” imbuhnya.

Oleh karena itu, Usman menegaskan, Gubernur Aceh Nova Iriansyah beserta jajarannya harus cerdas dan memiliki skema yang jelas dalam rencana investasi oleh Uni Emirat Arab ini.

BACA..  Dukung Vaksinasi Covid -19 di Aceh, BPJS Kesehatan Sinergikan Aplikasi P-Care

“Sangat aneh bahasa Gubernur Aceh ini, masih sangat normatif seperti pengamat yang berharap investasi UEA akan memberikan Multiplier Effect memakmurkan rakyat Aceh,” sebut Usman.

Dalam posisi sebagai rule maker penguasa negeri ini, seharusnya Nova mengambil posisi sebagai penentu yang bukan hanya sekedar berharap, tetapi dengan jelas dan tegas memastikan bahwa rencana investasi pariwisata di Pulau Banyak oleh pihak UEA betul-betul berdampak positif bagi rakyat Aceh terutama masyarakat Singkil dan Pulau Banyak.

“Ini harus ditunjukan oleh Nova Iriansyah sebagai pemimpin rakyat Aceh. Nova harus secara transparan menjelaskan kepada publik seperti apa skema investasi oleh UEA tersebut, dan seperti apa proyeksi manfaat dan dampak positifnya bagi rakyat Aceh nantinya,” kata Usman.

Selain itu, ia melihat perilaku di bawah pemerintahan Nova Iriansyah gemar sekali membius rakyat Aceh dengan janji-janji bombastis terkait rencana investasi di Aceh, seperti menjadikan Pulau Banyak Maldives kedua.

Menurut Usman, hal ini sama polanya dengan kasus Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong dan Kawasan Ekonomi Kreatif (KEK) Arun yang digadang-gadangkan akan mbuat ekonomi Aceh maju, industri Aceh akan tumbuh, menyerap puluhan ribu tenaga kerja, tapi ujung-ujungnya “Choh Bandum”.

BACA..  Dukung Vaksinasi Covid -19 di Aceh, BPJS Kesehatan Sinergikan Aplikasi P-Care

Apa yang disampaikan Usman Lamreung bukanlah pepesan kosong, Usman mencontohkan kasus KIA Ladong, dimana investornya putra daerah yang sudah sangat membantu sehingga nekat menghadapi resiko kerugian. Namun putra daerah tersebut harus angkat kaki karena tidak tahan dengan mental rezim Nova “Kuah Beulemak U Bek Beukah” (Kuah Harus Lemak, Kelapa Jangan Pecah). Setali tiga uang, demikian juga halnya dengan status PSN KEK Arun yang hilang di Bawah Pemerintahan Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

“Belajar dari kegagalan demi kegagalan selama ini, Usman menekankan kepada Gubernur Aceh Nova Iriansyah beserta jajarannya, agar fokus memberikan bukti bukan sekedar mengumbar janji, bergaya dengan judul-judul bombastis tapi implementasi nol besar, hingga berujung menjadi “siklus PHP (Pemberi Harapan Palsu)” bagi rakyat Aceh,” tegas pengamat ini.

“Ini saatnya Nova Iriansyah beserta jajarannya membuktikan bahwa mereka profesional dan bukan amatiran dalam mengurus investasi,” tutup Usman Lamreung.