Jangan Gusur Kami Pak…!!!

oleh -124 views
example banner

Laporan | Syawaluddin

BANDA ACEH (AD) – Muhammad Husen 57 lelaki legam warga Gampong Cot Cut, Aceh Besar, Aceh. Itu terlihat lunglai, menatap kandang sapinya telah rata tanah disuatu sore.

Hari hari Husen, dihabiskan mengurus sapi dan sepetak tanaman rumput gajah (makan sapi) untuk menghidupi dia dan keluarganya.

Asanya pupus, mana kala gubernur Aceh membentuk Tim Terpadu Penataan Kawasan Kanal Banjir Krueng Aceh dengan  SK Nomor : 362/1337/2020.

Menggusur paksa aktifitas yang ada dibataran Kanal Krueng Aceh, Kebun, Kandang Sapi, serta Tanaman yang ada didalamnya, rata dengan tanah.

Penggusuran paksa pun berlanjut hingga kini, Gubernur dengan menggunakan tangan TNI dan Polri meluluhlantakkan apa yang ada di Bataran Kanal Krueng Aceh.

Sebelum penggusuran paksa dilakukan, masyarakat masih bisa melakukan aktifitas ekonominya, terlebih saat pandemi Covid 19 hari ini. Sendi ekonomi mereka hancur.

BACA..  Wali Kota : Stok Bahan Pokok Banda Aceh Aman Hingga Akhir Tahun

Bataran Kanal Krueng Aceh inilah, satu satunya topangan hidup mereka, untuk bertahan hidup memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

Kehidupan ekonomi tumbuh subur di wilayah timur Kota Banda Aceh, Aceh Besar. Pasca tsunami 16 tahun silam. Hingga kini wilayah bataran Krueng Aceh jadi tempat kunjungan wisata lokal sebab memiliki nilai nilai estetika yang sangat mempesona.

Geliat ekonomi sangat kentara, mereka yang berjualan makanan dan minuman khas Aceh menjamur disepadan bataran DAS Krueng Aceh.

Itu dulu, sebelum penggusuran, kini sapi sapi yang ada tak tau harus dibawa kemana, terpaksa mereka jual dengan harga murah.

Wilayah itu kini, rata dengan tanah, hanya rerumputan saja yang masih tersisa, sementara tumbuhan tanaman penghasil uang telah sirnasirna (Pinang, Mangga, Pisang, Kacang Kacangan, Cabai, Terong).

BACA..  Aminullah Usman Serahkan Rumah "Pro Bergemilang" Untuk Yusnidar

“Saya ndak bisa bilang apa apa lagi pak  kalau sudah terjadi seperti ini, mau kita bangun kadang dikampung, ndak bisa, rumah sudah padat, bisa marah orang sama saya,” Jelas Husen pada suatu bincang dengan atjehdaily.id. Minggu, 25 Oktober 2020 di Cot Iri, Aceh Besar, Aceh.

Ada permohonan dari Husen, agar Gubernur meninjau kembali putusannya melaui SK Nomor 362/1337/2020, banyak sekali masyarakat yang butuh dan menopang hidup di bataran Krueng Aceh itu.

Lelaki legam, bertudung coklat itu, dibalut kemeja putih bercorak biru itu berkesah agar suaranya didengar oleh Pelaksana Tugas Gubernur Aceh. Tidak hanya Husen, tapi seratusan orang yang menggantungkan hidup di Bataran itu, juga berharap.

BACA..  Wali Kota : Stok Bahan Pokok Banda Aceh Aman Hingga Akhir Tahun

“Kami potong semua pohon yang ada di bataran ini, pohon pinang, mangga, durian dan pohon lainnya, sesuai dengan perintah, kami ikuti, kalau tidak mau nanti dikatakan kami melawan pemerintah,” katanya.

Jika bataran ini dibersihkan seluruhnya, tanpa ada tanaman pengikat tanah, malah sebaliknya akan mengikis sepadan bataran tersebut.

Sebaliknya menciptakan peluang banjir, Husen menuturkan, selama puluhan tahun, hingga saat ini, ketika air bah pun, bataran kanal ini sanggup menampung air bah dan tak pernah meluap kekampung.

“Saya minta, tolong pak Gubernur jangan  gusur kami, hanya ini milik pemerintah yang bisa menghasilkan ekonomi bagi kami, masyarakat Aceh Besar,” pungkasnya. (*)