Delky Minta Dirut Evaluasi Kinerja Kanwil Aceh

oleh -229 views
example banner

Banda Aceh (AD)- Berlakunya Qanun Nomor 11 Tahun 2018 tentang Lembaga Keuangan Syari’ah seakan menjadi alasan sekaligus dalih bagi BRI atas permasalahan layanan terutama berkaitan dengan sistem di Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Buruknya layanan ini bukan hanya merugikan nasabah, namun juga seakan menunjukkan BRI tidak siap untuk di Syari’ahkan.

“Sungguh disayangkan, pasca penerapan qanun syari’ah, layanan ATM BRI terus memburuk di Aceh khususnya di Banda Aceh. Kondisi ini tentunya sangat merugikan nasabah,” ungkap Ketua Yayasan Aceh Kreatif, Delky Nofrizal Qutni kepada media ini, Minggu 25 Oktober 2020.

Kesigapan BRI maupun anak perusahaannya yakni PT BRI Syariah sebagai salah satu Perbankan milik BUMN di Aceh, patut dipertanyakan publik. Padahal, pemberlakuan status syariah di Aceh bukan hanya pada BRI saja, namun juga Bank lainnya, sebagai contoh BNI.

BACA..  Wali Kota : Stok Bahan Pokok Banda Aceh Aman Hingga Akhir Tahun

“Sebagai perbandingan, kita bisa lihat pada BRI, jika dilakukan pengiriman ke BRIS dikenakan biaya pengiriman. Sementara, dari BNI ke BNI Syariah tidak dikenakan biaya pengiriman. Itu baru satu contoh, belum lagi kondisi jaringan ATM yang sangat buruk dan sering error. Ini menunjukkan, bahwa BRI di Aceh sedang tidak baik-baik saja dan sangat sering justru merugikan nasabah,” ujarnya.

Selain itu, Delky juga menyampaikan, bahwa permasalahan lainnya yang kerap terjadi di ATM BRI yang kini sering mendalilkan syariah sebagai masalah, seperti penarikan yang saldo terpotong tapi uang tidak keluar. Ternyata mesin ATM nya sering mengalami kekosongan atau sedang error.

Bayangkan saja, jika hal itu terjadi dan dialami ratusan bahkan ribuan nasabah. Kemudian nasabah tersebut harus membuat pelaporan dan akan diproses 3 hingga 10 hari kerja. Bagaimana jika nasabah membutuhkan hal itu pada hari itu juga, katakan saja kebutuhan mendesak, seperti nasabah perlu membeli obat dan seterusnya, tentu ini akan sangat merugikan nasabah.

BACA..  Aminullah Usman Serahkan Rumah "Pro Bergemilang" Untuk Yusnidar

“Itu hanya beberapa contoh saja, bahwa pelayanan BRI di Aceh sangatlah buruk dan memprihatinkan serta kerap merugikan nasabah. Bisa jadi masih banyak permasalahan lainnya yang terjadi dan lebih memprihatinkan,” sebut mantan Kabid Advokasi Forum Paguyuban Mahasiswa dan Pemuda Aceh itu.

BACA..  Wali Kota : Stok Bahan Pokok Banda Aceh Aman Hingga Akhir Tahun

Untuk itu, sebagai civil society, kita meminta agar Direktur Utama BRI Pusat sesegera mungkin melakukan evaluasi kinerja Kantor wilayah BRI Aceh.

Delky meminta Direktur utama BRI untuk segera melakukan evaluasi dan copot pejabat atau manajemen yang tidak becus. Jangan sampai BRI sebagai Bank BUMN terus merugikan nasabah. Managemen yang tidak siap untuk memberikan pelayanan profesional harus dicopot dan digantikan oleh yang sanggup.

“Jika ini tidak dilakukan, maka kami akan mengajak seluruh masyarakat Aceh khususnya, untuk sama-sama pindah Bank daripada harus terus- terusan mendapatkan pelayanan yang buruk,” tutup Ketua Yayasan Aceh Kreatif. (*)