Jeritan Nelayan Messah, Taman Nasional Komodo

oleh -88 views

Opini | Frans Sarong

MESSAH adalah nama salah satu pulau kecil dalam kawasan Taman Nasional Komodo atau TNK di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Namun dalam peta kawasan TNK, pulau yang merupakan wilayah Desa Pasir Putih, hanya berupa bintik tanpa nama. Padahal penduduknya lumayan padat, hampir 500 kepala keluarga atau sekitar 2.000 jiwa. Bangunan kampungnya pun unik rata-rata ditumbuhi rumah panggung. Itu ciri khas perumahan etnis Bajo, yang keseharian hidupnya tak terpisahkan dari laut.

example banner

Memanfaatkan kunjungan keliling Flores dari Ngada hingga Labuan Bajo, kota Kabupaten Manggarai Barat, aktivis kemanusiaan dan pro demokrasi, Natalius Pigai, Senin (23/11/2020), menyempatkan diri berkunjung ke Pulau Messah. Kunjungan itu atas ajakan sahabat kentalnya, Melki Laka Lena, yang kini Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, juga Ketua DPD Partai Golkar NTT.

Menggunakan speedboat yang dinahkodai Ahyar (34), Natalius bersama sahabatnya, Maksi Adipati Pari dan Frans Sarong, tiba di Messah, jelang puncak siang. Entah dari mana  informasinya, tampak belasan warga sudah berdiri menunggu di bibir dermaga kayu, sejak beberapa saat sebelum speedboat sandar.

Setelah rebutan berfoto dengan Pigai, mereka dengan penuh keceriaan mendampingi sang aktivis berkeliling kampung hingga titik pertemuan di kediaman H Rasyid yang adalah mantan Kades Pasir Putih. Dari bisik bisik warga sejak dermaga, terungkap kalau mereka sebenarnya sudah tahu siapa tamu tak disangka itu. “Kami bangga karena berkesempatan jumpa langsung Pak Pigai. Sejauh ini tahu beliau hanya melalui televisi,”  bisik Halakim (52), warga Messah.

“Pak Natalius Pigai memang baru pertama kali ini berkunjung ke Messah. Namun rata rata warga Messah sudah tahu dan akrab dengan nama beliau,” tambah Ahyar yang juga warga Messah.

Kediaman H Rasyid menjadi titik pertemuan dadakan Pigai dengan puluhan warga Messah.  Sang aktivis awali pertemuan dengan  sapaan singkat. Setelahnya, warga secara enteng langsung memanfaatkan kesempatan meluapkan kekecewaan mereka akibat berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak bahkan membuat para nelayan harus menjerit. Antara lain berbagai larangan tanpa solusi. Sebagai misal: larangan menangkap dan usaha dagang mengantarpulaukan anakan lobster. Conton lainnya: larangan memanah ikan apalagi dengan alat bantu kompresor untuk menyelam lebih dalam. Juga jeritan kesulitan air bersih yang tak kunjung teratasi,  serta berbagai persoalan lainnya.

Berawal dari tuan rumah, H Rasyid. Kata dia, warga Messah sejak lama menekuni usaha menangkap dan mendagangkan anakan lobster. Alat tangkap yang digunakan ramah lingkungan, hanya mengandalkan rangkaian kertas khusus. Usaha itu menjadi andalan keluarga karena pasarannya jelas dan harganya menggiurkan, Rp 10.000 per anakan lobster. Belakangan, sendi kehidupan nelayan Messah dan sekitarnya oleng setelah Pemda NTT menerbitkan larangan menangkap dan mendagangkan anakan lobster, secara bebas. Usaha itu boleh dilakukan asalkan dengan izin resmi dari Dinas Perikanan NTT.

Sebagaimana diakui H Rasyid dan sejumlah warga Messah – para nelayan dalam format kelompok usaha bersama, sebenarnya sudah menyampaikan permohonan  untuk mendapatkan perizinan dimaksud. Perwakilannya bahkan harus ke Kupang untuk urusan perizinan itu. Namun permohonan mereka hingga kini  belum juga direspons. “Warga Messah sungguh menyayangkan kebijakan yang hanya melarang tanpa solusi,” keluh H Rasyid kepada Natalius Pigai.

Jeritan lainnya terkait kesulitan air bersih. Pulau Messah dipastikan tanpa sumber air tawar entah di permukaan tanah atau kandungan air tanahnya.