TNI Dan POLRI Berasal Dari Rakyat, Dimiliki Oleh Rakyat, Hasilnya Untuk Rakyat!

oleh -146 views

example banner

example banner

OPINI | Sugeng Waras

NEGARA dibentuk dari pemikiran rakyat, tujuannya ditentukan oleh rakyat, hasilnya untuk rakyat, (bukan gagasan dari investor, direncanakan oleh investor, hasilnya untuk investor)TNI.

example banner

Kelahiran TNI, diawali pembentukan Badan Keamanan /Keselamatan Rakyat  ( BKR ), terdiri mantan Peta, Heiho, KNIL dan Laskar Rakyat

Kemudian menjadi Tentara Keamanan / Keselamatan Rakyat (TKR),  dan berubah lagi menjadi Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan selanjutnya menjadi  Tentara Nasional Indonesia (TNI)

Dulu, ada seorang Jendral besar, berasal dari santri, bernama Sudirman, yang kemudian terkenal dengan Panglima Besar Jendral Soedirman / Bapak TNI

Saat TKR, ada beberapa nama terkenal diantaranya  Komandan Divisi Pertama TKR bernama Kolonel KH Sam’un, pengasuh pesantren Banten

Komandan Divisi ketiga, KH Arwidji Karta Winata, Tasikmalaya, Komandan Resimen 17, KH Iskandar Idrus, Dan Rem 8 Let Kol KH Yunus Anis

Komandan Batalyon Malang  Mayor  KH Iskandar Sulaiman, sekarang Rais Suriyah NU Malang  (dokumen arsip nasional Sekneg dan TNI)

Dulu,  banyak para komandan berasal dari santri, muridnya /anak buahnya  juga santri, kemudian mereka berjuang bersama sama, berkelompok kelompok, ditambah rakyat elemen lain

Saat pergerakan perjuangan kemerdekaan, kelompok yang terdiri dari Kiai dan para santri itu berjuang tidak dibayar, mereka mengeluarkan beaya sendiri dan disokong oleh rakyat lainya

Baru kemudian setelah tahun 1950, seiring tertibnya administrasi, barulah TNI memperoleh gaji, yang sangat sederhana.

Itulah cikal bakal lahirnya TNI, yang lahir dari rakyat, yang makin lama makin diperhatikan kesejahteraannya oleh negara

Polisi lahir, dari warisan Belanda, makanya masih banyak isi dan peraturan hukum peninggalan Belanda, yang kini terus diadakan penyesuaian

Untuk memperkokoh kekuatan/kemampuan negara, dipersatukanlah TNI dan POLRI menjadi ABRI

Namun karena dikhawatirkan POLRI tertular cara cara  atau kekhasan militer, maka dipisahkan lagi menjadi TNI dan POLRI

Namun demikian, untuk integritas TNI POLRI, pendidikannya hingga kini masih bersama sama di AKMIL, Magelang, selama satu tahun tingkat pertama

Nggak tahu entah kenapa, kenyataanya, kini POLRI dibawah langsung Presiden, sedangkan TNI cukup dibawah langsung Men Han

Ilmunya, polisi masuk golongan sipil, tidak dipersenjatai, kecuali para personil tertentu, itupun dengan standard senjata api yang sangat terbatas

Kenapa ?

Polisi dipersiapkan menghadapi tugas tugas KAMTIBMAS, yang kemudian berkembang menjadi tugas tugas keamanan negara  ( KAMNEG )

Sedangkan TNI untuk tugas tugas pertahanan negara (HANNEG) Kalau toh ada Polisi Udara dan Polisi Laut, itu terbatas pada tingkat pinggir untuk laut, dan tingkat rendah untuk udara

Seiring perkembangan global / dunia, dimana hakekat ancaman bergeser / berubah, maka yang dulu ancaman dari luar negeri diprediksi datangnya lewat udara dulu, dihadapi oleh kekuatan pokok TNIAU dibantu angaktan lain

Baru kemudian melewati laut, dihadapi oleh kekuatan pokok TNI-AL dibantu angkatan lain

Selanjutnya masuk didaratan, dihadapi dengan kekuatan pokok TNI AD bersama KEPOLISIAN dengan peran, fungsi dan tugas yang berbeda

Kini, strategi itu berubah sesuai dinamika yang ada

Untuk semua itu, diawali dan diakhiri oleh Badan Inteljen Negara ( BIN ), dalam mencari, mengumpulkan, mengolah dan menganalisa keterangan dari segala bentuk ancaman yang ada, selanjutnya jadilah keterangan / bahan Inteljen

Keterangan  / bahan Inteljen ini  disampaikan kepada presiden, sebagai bahan pertimbangan, keputusan dan kebijaksanaan presiden dalam mengambil keputusan / kebijaksanaan dalam menyikapi ancaman itu, termasuk evaluasi / pemulihanya

Apa bila semua upaya, kegiatan dan pekerjaan itu betul, terciptalah negara dalam keadaan adem ayem, tentrem, kerto tur Raharjo

Jika faktanya amburadul dan ancur ancuran, bisa akibat kesalahan prediksi satu elemen, atau beberapa elemen

Jika yang salah semua elemen, berarti ini akibat kesalahan kepala negara dalam mengelola negara

Penulis : Sugeng Waras, Purn TNI, (Pemerhati Pertahanan dan Keamanan NKRI)