Free Port Sudah 21 Tahun Bagaimana Nasib Mobil Mewah Sabang

oleh -159 views
example banner

example banner

Laporan | Jalaluddin Zky

Sabang (AD) – Perjalanan Pelabuhan Bebas dan Perdagangan Bebas (Free Port) Sabang, sudah mencapai umur 21 tahun namun, sejumlah mobil mewah asal luar negeri yang masuk ke Sabang, beberapa tahun silam kini tidak diketahui nasibnya.

Biasanya, dimana-mana mobil mewah disimpan dalam garasi dan dijaga dengan aman namun, bedanya dengan nasib mobil mewah eks Singapura yang masuk ke Sabang, mobil-mobil tersebut harus menahan panasnya mata hari, derasnya hujan bahkan ditutupi semak belukar.

Selain itu, masih ada mobil mewah dan jenis lainnya yang berputar-putar di pulau Sabang, dikabarkan tanpa harus bayar pajak dikarenakan tidak ada kouta untuk pengurusan administrasi pajak kendaraan-kendaraan asal negara berlambang singa itu.

Banyak yang bertanya apa makna Free Port Sabang, jika yang ditetapkan pemerintah pusat sejak tahun 2000, dengan terus didanai anggaran yang mencapai beberapa triliyun rupiah untuk pendukung pengembangan kawasan Free Port Sabang. Sementara, mobil bekas dari luar negeri yang sudah masuk saja, masih kini harus jadi besi rongsokan.

Bahkan, Wakil Menteri (Wamen) Agraria Tata Ruang dan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (ATR-BPN RI) Surya Tjandra, saat berkunjung ke Sabang baru-baru ini terheran-heran kok masih ada mobil mewah bahkan, tidak ada di daerah lain yang dibiarkan jadi rongsokan oleh masyarakat Sabang.

Menurut Wamen ATR-BPN RI mobil-mobil mewah yang tergeletak pinggir jalan termasuk di kebun kosong itu, pertanda bahwa Sabang itu pernah jaya dan menjadi kawasan yang maju, tetapi kenapa sekarang malah mundur.

Sementara salah seorang warga Kota Banda Aceh Iqbal, selaku pemerhati kan kawasan Free Port Sabang mempertanyakan bagaimana nasib mobil-mobil mewah yang kini masih tersisa di Sabang. Apakah tidak ada solusi lagi untuk pengurusannya.

Jika memang tidak ada solusi lagi sebaiknya Pemerintah Kota (Pemko) Sabang dan Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS), dapat mengambil langkah supaya pengusaha atau pemilik mobil eks Singapura itu tidak busuk dimakan usia.

“Sebaiknya Pemko Sabang bekerjasama dengan BPKS untuk menampung mobil-mobil mewah itu, misalnya untuk dijadikan monumen di tugu-tugu pusat kota dan kawasan wisata Sabang, bisa dipajang di atas tugu jalan Perdagangan, Simpang Garuda dan di kawasan wisata lainnya. Maknanya, orang ke Sabang bukan saja berwisata alam laut dan religi saja akan tetapi juga dapat melihat mobil mewah yang dipajangkan di atas tugu”, imbuhnya.(*).