Peran Keluarga Cegah HIV/AIDS

oleh -189 views

Oleh | Subhan Tomi

Pandemi Covid-19 yang belum berakhir bahkan semakin meningkat Satuan Tugas Penanganan Covid – 19. Positif 357.762,  Sembuh 281.592, Meninggal 12.431, Update Terakhir: 17-10-2020

Juga memberikan dampak dalam bidang lingkungan hidup. Penggunaan APD dan Alkes baik pada Petugas kesehatan atau pada pasien termasuk kepada seluruh masyarakat seperti masker dan handsanitizer, sarung tangan sekali pakai serta sampah rumah tangga di masyarakat kian meningkat setiap harinya di seluruh wilayah Indonesia.

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PermenLHK) No. 56 Tahun 2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah B3 dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan, limbah masker dikategorikan sebagai limbah medis yang membutuhkan penanganan khusus.

Bisa dibayangkan  berapa juta sampah masker, sarung tangan, tissu yang ada di lingkungan tempat kita berada mengingat ada 270 juta penduduk Indonesia yang kesemuanya memiliki resiko terkontaminasi oleh coronavirus.

Saat ini , masker adalah kebutuhan terhadap masyarakat karena dapat mencegah penularan coronavirus, tetapi yang menjadi permasalahan kita sering jumpai dilingkungan masker bekas berserakan dan dibuang begitu saja ada yang kesungai maka bakteri dan virus sumber air yang menjadi kebutuhan masyarakat. Tentu menjadi permasalahan bagi kesehatan manusia dan mengganggu ekosistem di sungai atau laut.

Belum lagi sampah rumah tangga, dengan adanya pembatasan sosial yang membuat ketidak nyaman di lingkungan tempat tinggal.

Pandemi saat ini, masyarakat di tuntut untuk menjaga rasionalitas, dengan menempatkan nalar dan objektivitas di tengah serbuan informasi terkait Covid-19, isu aktual nasional yang harus secara cerdas disikapi oleh masyarakat  memilih dan memilah informasi dengan tidak menyebarkan berita hoaks, senantiasa menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, membasuh tangan, menjaga jarak satu dengan yang lain.

Dari 2.820 rumah sakit, hanya ada 83 lokasiyang memiliki incenerator untuk mengolah limbah. Hanya ada 6 pabrik pengolahan limbah medis. Itu pun hanya di Jawa dan kalimantan.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya pun mencatat, limbah medis atas penanganan Covid-19 di seluruh Indonesia mencapai 1.108,54 ton selama Maret hingga 8 Juni.

Padahal, Pemerintah telah mengeluarkan surat edaran (SE) bernomor Nomor 2/2020 ini jadi pedoman penanganan limbah infeksus dan pengelolaan sampah rumah tangga.

Menteri KLHK Siti Nurbaya untuk instruksikan Ditjen PSLB3 untuk segera membangun 32 Fasilitas Pemusnah Limbah B3 medis dan melakukan implementasi hasil Rakoreg Mei 2020.

Tapi jika dilihat dari perkembangan di lapangan penerapan aturan ini belum maksimal di implementasikan oleh daerah di wilayah Indonesia

Menjadi sebuah catatan penting bahwa  fasilitas pemusnah sampah medis dan rumah tangga sangat di perlukan, sebab limbah medis akan bertambah setiap harinya apalagi dengan kenaikan angka positif Covid19 di Indonesia, begitu juga sampah rumah tangga.

Tidak diinginkan  terjadinya infeksinosokomial yang disebabkan oleh sampah medis baik kepada Nakes, pasien dan keluarga yang berkunjung ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Miris, ketika kita melihat adanya temuan bahwa sampah medis dan rumah tangga di buang begitu saja kelaut dan sungai. Karena ketidaktahuan masyarakat tentang bahaya dari sampah medis dengan mudahnya masyarakat rakyat membuat dengan sembarang masker, sarung tangan yang dapat menimbulkan permasalahan kesehatan baru di tengah pandemi saat ini.

Perlu adanya edukasi kepada masyarakat tentang bahaya sampah medis yang dipakai setiap hari yaitu masker maupun sampah rumah tangga untuk mencegah berkembang biaknya bakteri dan virus yang berisiko tinggi menyerang siapa saja,  Hendaknya masyarakat dapat selalu menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggalnya.

Serta dapat mengancam kerusakan ekosistem di sungai dan laut, Air adalah sumber kehidupan manusia yang paling utama, penggunaan disinfektan yang sangat berlebihan juga dapat mempengaruhi kualitas air yang dikonsumsi karena tercampurnya larutan disinfektan jika tidak dengan berhati-hati dilakukan.

Sejati nya kita bersama harus meningkatkan kesadaran perilaku yang positif didalam menyikapi permasalahan sampah dengan selalu membuang sampah medis dan rumah tangga pada tempatnya, dengan demikian setidaknya kita dapat mengurangi faktor resiko timbulnya penyakit yang diakibatkan sampah, ingat “kebersihan sebahagian dari iman”.

Mari kita secara bersama membantu tugas pemerintah pusat dan daerah menjadikan masalah ini sebagai prioritas dalam mencegah permasalahan baru yang memiliki potensi tinggi di tengah pandemi covid – 19. (*)

 

Penulis adalah : Ketua Bidang Kesehatan DPD II KNPI Aceh Singkil dan Ketua Lembaga Kesehatan PCNU Aceh Singkil.