Bangkitkan Rasa Nasionalisme Dandim 0112/Sabang Ajak Masyarakat Nobar Film G 30 S/PKI

oleh -81 views

Sabang (Atjeh Daily) Komandan Kodim 0112/Sabang Letkol Czi Kholid Firdaus,SE, mengajak masyarakat Nonton Bareng (Nobar) Film G 30 S/PKI. Hal tersebut dilakukan untuk membangkitkan kembali rasa nasionalisme bangsa kepada Negara Kesatuan Negara Indonesia (NKRI).

Nobar Film Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI), dilaksanakan di Tosaka Coffe Gampong Kuta Ateuh Kec. Sukakarya Kota Sabang.

Komandan Kodim 0112 Sabang, Letkol Czi Kholid Firdaus,S.E, disela-sela Nobar Film G 30 S/PKI mengatakan, pemutaran Film G30S/PKI dinilai sebagai upaya kita bersama untuk mengangkat kembali salah satu sejarah kelam bangsa Indonesia bagi seluruh anak Bangsa khususnya generasi Muda Indonesia.

Kegiatan Nonton Bareng Film G 30 S PKI tersebut untuk memberikan gambaran, agar peristiwa pahit dan hitam tersebut tidak terjadi lagi di era sekarang ini serta pentingnya generasi muda sekarang untuk mengetahui sejarah Indonesia di masa lalu.

Terutama tentang sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI), yang dikemas dalam Film Pengkhianatan yang dilakukan oleh PKI jaman itu.

Ditinjau dari prospektif kesejarahan, Peristiwa G 30 S/PKI dalam kerangka hukum kausalitas atau sebab akibat yaitu hubungan antara prolog, epilog dan pasca (sebelum, pada saat dan setelah) peristiwa tersebut.

Peristiwa G30S terjadi disebabkan PKI ingin mewujudkan Ideologi Komunisme/ Marxisme-Leninisme dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara melalui revolusi yang bersifat gerakan makar dan subversif yang dapat digagalkan oleh kekuatan kebangsaan Indonesia.

Selanjutnya PKI dihancurkan, dibubarkan, ditumpas dan dinyatakan sebagai partai terlarang melalui TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966, yang dinyatakan tetap berlaku atas dasar TAP MPR No. I/MPR/2003.

Penumpasan terhadap G 30 S/PKI dilakukan oleh Pemerintah dan massa non-PKI baik secara militer, politik maupun hukum dan telah diselesaikan secara konstitusional dan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku.

Ditinjau dari prospektif hukum pidana dan hukum tata negara terkait dengan penyelesaian Peristiwa 1965, tindakan kekerasan yang terjadi setelah Oktober 1965 berdasarkan kajian akademik, relasi hukum pidana dan hukum tata negara, masuk dalam kategori “The Principles Clear and Present Danger

”Yaitu Negara dalam kondisi yang dapat dinyatakan sebagai dalam kondisi negara yang bahaya dan nyata, (terkait national security), karenanya berlaku suatu adigium Abnormaal Recht voor Abnormaale Tijden (Hukum Darurat untuk Kondisi Yang Darurat).

Dalam pemahaman yang demikian, yaitu situasi dan kondisi yang darurat, maka suatu tindakan abnormal adalah dibenarkan secara hukum dan sama sekali tidak dapat dinilai atau diukur dengan karakter-karakter hukum masa sekarang (The Present Law).

BACA..  Pemerintah Kota Sabang Apresiasi Kodim 0112/Sabang

Dalam konteks ini, negara tidak dapat dikategorikan sebagai suatu penilaian telah melakukan Pelanggaran Hak Asasi Manusia Berat.

Ditinjau dari prospektif sosial dan politik, G 30 S/PKI merupakan kudeta sebagai bagian dari revolusi sosial PKI yang hendak.

“Mengkomuniskan Indonesia”. Kegagalan gerakan revolusioner PKI dengan ideologi komunis tersebut, selanjutnya sikap Pemerintah dan masyarakat untuk menolak ideologi komunis.

Sedangkan aksi kekerasan yang terjadi merupakan konflik horisontal dengan adanya aksi bela diri oleh pihak non-PKI yang mengakibatkan adanya korban di kedua belah pihak.

Permintaan rekonsiliasi nasional, tuntutan keluarga PKI dan sebagian aktivis LSM agar Pemerintah Indonesia harus meminta maaf dan menyediakan kompensasi dan rehabilitasi bukan saja dipandang tidak tepat, namun juga akan banyak kendala dalam pelaksanaannya.

Pasca Reformasi Indonesia telah terjadi rekonsiliasi sosial dan politik (kerukunan nasional) secara alamiah di kalangan anak-anak/cucu-cucu dari mereka yang terlibat dalam konflik masa lalu. Semua hak-hak sipil mereka telah pulih kembali dan saat ini tidak ada lagi stigma yang tersisa pada mereka.

BACA..  Wali Kota Sabang Beri Bantuan Ke Palestina Melalui KNRP

Untuk itu hendaknya kita tidak lagi mencari-cari jalan rekonsiliasi, tetapi mari kita kukuhkan dan mantapkan kerukunan nasional yang telah berlangsung selama ini dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, yang berdasarkan pada asas kemanusiaan, persatuan dalam musyawarah dan mufakat, agar peristiwa tidak terulang lagi pada masa yang akan datang.

Sementara itu, perwakilan tokoh masyarakat Sabang Tgk Ramli mengatakan, kita sebagai anak bangsa yang pernah disakiti oleh gerakan PKI, tentunya tidak boleh lupa atas tragedi yang kejam, sadis dan tidak berprikemanusuaan.

“Kita penerus bangsa berterima kasih kepada Panglima TNI, yang mengingatkan, membangkitkan semangat untuk melihat kembali atas kekejaman G 30 S/PKI”., kata Tgk Ramli.

Diharapkan kepada elemen bangsa agar tidak terpengaruh dengan cara apapun, dengan kelompok yang merongrong bangsa terutama dengan kelompok PKI., pintanya.

Amatan media ini antusias masyarakat Sabang untuk menonton Film G 30 S/PKI sangat luar biasa, terlihat para muda-mudi tidak bergerak dari kursi hingga selesai. Sementara ratusan penonton dari kesatuan TNI-AD, TNI-AL dan TNI-AU, ikut nonton dengan seksama. (jalal)