Polwan Polres Aceh Utara Tampil Cantik di Hari Kartini

oleh -72 views
Polwan
Polwan di Aceh Utara berpakaian adat di hari Kartini. Foto: SF

Lhoksukon (AD) Polwan Polres Aceh Utara tampil cantik dengan pakaian adat untuk memperingati Hari Kartini, Rabu, 21 April 2021. Penampilan para polisi wanita (Polwan) dan ASN perempuan di jajaran Polres Aceh Utara sungguh menawan.

BACA..  Pemerintah Kota Sabang Apresiasi Kodim 0112/Sabang

Anggota Polisi wanita dan ASN tersebut tampil cantik dengan menggunakan pakaian adat dan memberikan pelayanan seperti hari biasanya kepada Masyarakat di kantor Samsat dan Satpas SIM.

BACA..  Forum Jurnalis Aceh Cabang Bireuen Diketuai Oleh Maimun Mirdaz

Kapolres Aceh Utara AKBP Tri Hadiyanto melalui Kasat Lantas Iptu Adek Taufik, S.I.K menyampaikan untuk memeringati hari Kartini pihaknya memang sengaja memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan menggunakan pakaian adat oleh personel wanitanya.

BACA..  Prajurit Kodim 0103/Aceh Utara Laksanakan Tes Urine

“Untuk memeriahkan dan memperingati hari Kartini. Makanya kita meminta personel Polisi wanita berdandan cantik dan menggunakan kebaya sebagai bagian dari budaya Bangsa Indonesia,” kata Iptu Adek.

Selain itu, sebut Iptu Adek Taufik, para Polwan diharapkan dapat meniru kehidupan dan perilaku Kartini.

“Para Polwan dalam menjalankan tugas diharapkan dapat meneladani sikap serta semangat juang Kartini” pungkas Iptu Adek Taufik.

Sekedar diketahui, Raden Adjeng Kartini berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir. Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit. Semenjak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja. 

Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.  ( Sayed Panton).