banner 700250

Santunan ‘Jargas’ Aceh Tamiang Tidak Manusiawi

oleh -211 views

KUALASIMPANG (AD) – Temuan dan telaah Komisi I, Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tamiang, Aceh. Terhadap kinerja Jaringan Gas (Jargas) banyak memakan korban, masuk dalam galian pengerukan jaringan pipa gas yang sedang dikerjakan PT Adhi Karya.

Seperti korban Arya Satya 10 tahun, masuk dalam galian Jargas, anak dari Darman 40 tahun, warga Kampung Kota Lintang, kecamatan Kota Kualasimpang, Aceh Tamiang, Aceh. Patah tangan sudah tiga bulan (belum sembuh) hanya disantuni Rp.500 ribu rupiah oleh pihak PT Adhi Karya dan konsultan PT Amythas.

Darman mengisahkan kejadian tersebut kepada Wakil Ketua DPRK Aceh Tamiang, Fadlon, SH. Yang didampingi oleh Ketua Komisi I, M Irwan, SP dan Wakil Ketua Komisi I, Maulida Zikri. Saat berkunjung ke rumah duka, Jumat 18 September 2020.

BACA..  Belajar Dari Pengalaman Pahit Untuk Berhasil

Mendengar keluhan pihak korban, Ketua Komisi I DPRK Aceh Tamiang M Irwan menegaskan bahwa, bantuan tersebut sangat tidak manusiawi, mengingat perusahaan pembangunan Jargas merupakan perusahaan multinasional nasional.

BACA..  Belajar Dari Pengalaman Pahit Untuk Berhasil

Apalagi jika ditelaah, ada kesan perusahaan tersebut tutup mata, terhadap korban Arya Satya, siswa kelas V sekolah dasar Kota Lintang, Kota Kualasimpang. Aceh Tamiang.

Satya menjadi korban masuk dalam galian jaringan gas yang berada dalam kawasan kampungnya terjadi pada tanggal 8 Juli 2020 lalu sekira pukul 18.00 WIB.

“Dilihat dari hasil foto Elbow Joit yang dikeluarkan oleh Instalasi Radiologi RSUD Aceh Tamiang pada tanggal 13 Juli 2020 lalu, hasilnya sangat jelas patah. Jadi tangan patah, jadi santunan yang diberikan itu tidak manusiawi,” kesal Irwan yang diamini Wakil Ketua Komisi Maulida Zikri. Pada atjehdaily.id.

Menurut Politisi Muda Partai Gerindra; menyesalkan apa yang dilakukan oleh pihak PT. Adhi Karya sebagai pelaksanaan tidak menerapkan sistem perlindungan terhadap masyarakat yang berada dalam kawasan pembangunan.

“Mereka harus memberikan perlindungan masyarakat, ada tanggungjawab ansuransinya bukan hanya santunan” ungkap M. Irwan yang akrab disapa Wantanindo.

Sementara itu Wakil Ketua DPRK Aceh Tamiang Fadlon, SH pada kesempatan menyampaikan bahwa korban yang masuk dalam galian jaringan gas tersebut sudah banyak.

“Korban sudah banyak, dengan adek ini (Arya Satya – Red) sudah ada lima orang,” sebut Fadlon.

Fadlon yang juga merupakan warga Kampung Lintang tersebut menyampaikan banyak sekali warga yang melapor ke pihaknya terkait galian pipa jaringan gas yang tanpa ada pengaman atau bariket (line pembatas) disepanjang galian.

Fadlon sebagai Ketua DPRK Aceh Tamiang menghimbau kapada pihak PT Adhi Karya untuk melaksanakan kegiatan dilapangan harus mengikuti Standar Operasional Prosedur.

“Pelaksanaannya harus mengikuti SOP. Ketika SOP diabaikan maka akan banyak korban. Dan ini merupakan kelalaian dari pihak pelaksanaan,” sebut Fadlon.

Wakil Ketua DPRK Aceh Tamiang Fadlon dan Ketua Komisi I DPRK Aceh Tamiang sepakat akan memanggil pihak pelaksana kegiatan. ” Kita akan atur jadwalnya, kita akan surati pihak PT. Adhi Karya,” sebut M. Irwan mengakhiri.

Sementara itu Humas PT. Adhi Karya Wilayah Aceh Tamiang Bayu Anggara membantah terkait korban Arya Satya yang dikabarkan masuk galian pipa jaringan gas yang berada di Kampung Kotalintang.

“Arya Satya bukan masuk kedalam galian jaringan gas tersebut, melainkan karena ada kenderaan didepannya sehingga korban masuk parit. Bukan masuk dalam galian pipa. Itu murni kecelakaan buka kesalahan dari pihak pelaksana. Secara pribadi kita ada mengunjungi korban dan berikan sejumlah uang,” ungkapnya

Terkait line pembatasan (bariket) pada galian pipa, Bayu menjelaskan bahwa selama ini pihaknys selalu menekan kepada pihak pengawas lapangan agar galian pipa yang belum ditutup agar diberikan line pembatasan (bariket).

“Sudah kita tekankan agar galian yang belum ditutup agar diberi line pembatasan (bariket). Kalau ada kenyataan dilapangan tidak terpasang. Maka kita akan berikan sangsi kepada pihak pengawas. Karena itu termasuk dalam progres pekerjaan,” sebut Bayu mengakhiri. (Syawaluddin)