banner 700250

BRA Prioritaskan Renovasi Dayah Korban Konflik di Beutong Ateuh

oleh -157 views

Banda Aceh (AD)- Dalam rangka menjaring dan menyerap aspirasi dari masyarakat terhadap kebutuhan korban konflik, khususnya dayah yang ada di Kecamatan Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya, Badan Reintegrasi Aceh (BRA) melakukan kunjungan kerja.

Kunjungan kerja BRA ini, khusus untuk meninjau langsung kondisi terkini Dayah (Pesantren) Babul Mukarramah Alla Nuri Darusalam milik Almarhum Almukaram Teungku Bantaqiah, pasca tragedi konflik Aceh.

Dalam kunjungan tersebut, Direktur Reintegrasi Aceh Munir Ismail yang juga akrab disapa Hunter, turut didampingi Kabid Monitoring dan Evaluasi Kelembagaan, Khairunnisak, SE yang akrab disapa Nisah, Kuasa Pengguna Anggaran pada Badan Reintegrasi Aceh, Cut Aja Muzita, S.STP, MPA dan Kabid Politik, Hukum dan Pendidikan Damai, Rahmatan, S.Sos.

Setibanya di dayah Babul Mukarramah Alla Nuri Darussalam, rombongan BRA disambut langsung oleh Malikul Aziz atau lebih dikenal dengan Abu Kamil, Jum’at 11 September 2020.

“Insya Allah Bapak Plt Gubernur Aceh, melalui Ketua BRA Bapak H. Sayed Fakhrurrazi Yusuf akan melakukan dan melaksanakan peninjauan untuk dilaksanakan perbaikan sarana dan prasarana pesantren supaya bisa digunakan kembali dan sekarang pesantren tersebut dipimpin oleh anak Almarhum Tengku Bantaqiah,  dan tahun 2021, BRA akan melaksanakan program untuk penguatan perdamaian Aceh,” kata Direktur Reintegrasi Aceh, Munir Ismail, yang turut diamini Kabid Monitoring dan Evaluasi Kelembagaan, Khairunnisak, SE, Senin, 14 September 2020 di Banda Aceh.

Sebut Munir, kondisi dayah tersebut, sungguh sangat memprihatinkan. Dimana fasilitas yang dimiliki saat ini, sungguh sangat jauh dari yang dibayangkan tidak seperti dayah lain pada umumnya.

IDUL FITRI

“Kondisi sangat memprihatinkan,” ujarnya.

Seharusnya, kata Munir, pasca 15 tahun MoU Helsinki, setidaknya dayah tersebut telah direnovasi, namun saat ini terkesan luput dari perhatian semua pihak.

“Pasca 15 tahun MoU Helsinki, dayah Babul Mukarramah Alla Nuri Darusalam milik Almarhum Al Mukaram Teungku Bantaqiah, butuh sentuhan dari pemerintah dalam hal ini BRA. Baik itu renovasi bangunannya, serta fasilitas untuk mendukung kegiatan di Dayah tersebut,” ungkap Munir.

Sementara itu, Nisah juga menambahkan, seharusnya dayah milik Almarhum Almukaram Teungku Bantaqiah menjadi prioritas utama untuk direnovasi. Selain itu, pihak BRA juga menginginkan adanya renovasi kuburan massal Almarhum Almukaram Teungku Bantaqiah dan para santrinya yang menjadi korban tragedi pada masa konflik Aceh.

“BRA sangat peduli dengan kondisi dayah tersebut, serta merenovasi kembali kuburan massal Al Mukaram Teungku Bantaqiah. Dengan harapan, dapat menghilangkan rasa sedih yang dialami keluarga besar Almarhum Al Mukaram Teungku Bantaqiah,” pinta Nisah.

Lebih lanjut Murni Ismail menambahkan, berdasarkan masukan dari keluarga besar Almarhum Al Mukaram Teungku Bantaqiah serta hasil pantauan di lapangan, program ini harus segera diajukan dan menjadi prioritas utama.

“BRA adalah perpanjangan tangan dari pemerintah untuk mewadahi para mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dan sudah seharusnya BRA memperjuangkan keinginan mereka pasca MoU Helsinki,” demikian tutup Munir Ismail. (AF)