banner 700250

Jalan Tamiang – Lesten itu Parsial Harus Didukung Oleh Multilinear

oleh -194 views

KUALASIMPANG (AD) – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Pemerintah Aceh, provinsi Aceh. Nova Iriansyah menegaskan bahwa, jalan tembus yang menghubungkan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang – menuju Desa Lesten kecamatan Pining, Pemerintah Kabupaten Gayo Lues adalah Parsial.

“Itu merupakan bagian dari 11 item kegiatan proyek multiyears yang sedang berjalan, meski tidak masuk ada didalam multiyears tersebut. Begitupun kita akan upayakan pembangunannya menggunakan Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara (APBN),” tegas Nova kepada wartawan Jumat 10 September 2020, di Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang.

Dikatakan, jalan tembus Aceh Tamiang – Lesten tersebut sudah diupayakan beberapa kali tahun anggaran, kecuali itu, sifatnya-kan parsial, jadi sangat diharapkan dukungan semua pihak agar pelaksanaannya tuntas dalam tahun 2020.

BACA..  Belajar Dari Pengalaman Pahit Untuk Berhasil

Harapan Nova, satu persatu ruas jalan dari proyek multiyears tersebut tuntas, seperti dari Pulau Tiga menuju Kampung Kalou, dari Babo ke Simpang Jernih (Aceh Timur) dan dari kecamatan Simpang Jernih menuju Lokop (Aceh Timur).

Meski beberapa bagian pembangunan ruas jalannya ada di Aceh Timur, namun orientasi ekonominya tetap berada di Aceh Tamiang, sebab apa, Aceh Tamiang merupakan hinterline (penghubung yang menghubungkan) dari dan ke luar Kabupaten Aceh Tamiang. “Saya kira Aceh Tamiang yang akan mendapat effect domino-nya,” katanya.

BACA..  Garang Geruduk Istana Bogor

Menurut Nova, jalan tembus Aceh Tamiang – Lesten secepatnya dibangun, terutama itu, jembatan penghubung Bayle yang roboh diterjang air bah beberapa waktu lalu. “Kita upaya anggaran yang itu ada, sama samalah kita dukung percepatan pembangunan di wilayah Aceh pedalaman,” harapnya.

DED-nya Sudah Ada

Sementara, bupati Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Mursil; menyikapi pembangunan jalan tembus Aceh Tamiang – Lesten, mengatakan; pihak Aceh Tamiang dan Gayo Lues, telah membuat Detail Engineering Design (DED).

Mursil menegaskan bahwa; hasil penggabungan DED tersebut akan dibawa ke Komando Resor Militer (Korem) 011 Lila wangsa, di Kota Lhokseumawe. “Sebab pembangunannya di karya bhakti kan ke Korem 011 Lila wangsa, sebagai pelaksana proyek,” jelas Mursil.

Begitupun, dirinya berharap dukungan biaya pembangunannya diplotkan dari Anggaran Pembangunan dan Belanja Aceh (APBA) provinsi. Jika dipaksakan menggunakan dari Anggaran Pembangunan dan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Tamiang, rawan terhadap kesiapan anggaran yang memadai.

“Saya dan pak Bupati Gayo Lues menghadap Danrem, jika DED sudah fit, Insha Allah Senin ini kita menghadap Danrem lalu ke Pangdam, biar pembangunan jalan tembus itu di Karya Bhakti kan, dananya tetap dari provinsi juga,” tegasnya.

Masih Mursil, serapan anggaran khusus pembangunan jalan Aceh Tamiang – Lesten sebesar Rp.34 miliar tersebut diplotkan dari APBA, Gayo Lues sebesar Rp.20 miliar dan Aceh Tamiang sebesar Rp.14 miliar.

Anggaran sebesar Ro.34 miliar tersebut, khusus peruntukan pembangunan jalan Aceh Tamiang – Lesten, “Ya itu khusus untuk pembangunan jalan tembus Aceh Tamiang – Lesten, diluar jembatan yang roboh, di sungai Alas, Lesten tempo hari,”.

Aceh Tamiang – Lesten Harus Tembus

Dikesempatan yang sama, Politisi Partai Demokrat, Nora Idah Nita menyatakan, pembangunan ruas jalan poros lintas tengah Aceh Tamiang – Lesten harus bisa dibangun pada tahun 2021 ini.

Sebab, jalan penghubung lintas Kabupaten tersebut sangat dibutuhkan masyarakat kedua Kabupaten dimaksud, sebagai lintas seni, budaya dan memiliki aspek ekonomi yang sangat kuat secara politis.

“Saya harap jalan itu dapat dibangun pada tahun 2021 ini, jalan penghubung tersebut sangat dibutuhkan masyarakat di dua Kabupaten yang selama puluhan tahun terputus komunikasi seni, budaya, politik. Apalagi aspek ekonominya, saya sebagai warga Aceh Tamiang berharap pak Gubernur dapat menuntaskan soal ini,” tegas Nora, srikandi Aceh Tamiang yang juga anggota DPRA.

Menurutnya, jalan poros penghubung yang menembus dua kabupaten itu sangat dibutuhkan oleh warga Aceh Tamiang dan Aceh Timur, sudah sejak lama didambakan.

Selain lintas utama, juga mempersingkat waktu tempuh dari dan ke Aceh Tamiang menuju Aceh Timur. Jalan poros tersebut juga, meminimalisir bagi masyarakat untuk mengeluarkan hasil bumi, yang selama ini sangat sulit, apalagi dalam kondisi hujan, badan jalan seperti kubangan dan berlumpur.

“Jalan poros utama yang menembuskan dua kabupaten, selain digunakan untuk membawa komoditi, juga; sebagai lintas seni dan budaya, mengingat endatu pedalaman Aceh Timur dan Aceh Tamiang masih serumpun, yakni Suku Gayo,” Pungkasnya. (Syawaluddin)