banner 700250

Bak Meretas Rezeki Kotor

oleh -356 views

KUALASIMPANG (AD) – Pembangunan peningkatan jalan tembus, kampung Paya Kulbi ke Paya Awe sepanjang kurang lebih 2400 meter, yang diplotkan dari Anggaran Otonomi Khusus (Otsus) Tahun 2020, senilai Rp.6,912 miliar bak ‘Meretas Rezeki Kotor’.

Kiasan itu terlihat jelas pada kondisi pekerjaan di lapangan, pelaksana pekerjaan atas nama CV. HTJ, ada indikasi kuat menyalahi prosedur teknis saat penyebaran Base B dan Base A. Kritikpun mengalir dari kalangan LSM, Media dan Masyarakat disekitar pembangunan jalan tersebut, yang faham teknis jalan.

CV HTJ secara terang terangan, menyebarkan hamparan batu yang dikatakan base A tersebut, kental bercampur dengan bebatuan bulat, alhasil bebatuan yang dikatakan Base A, timbul (naik keatas) kepermukaan badan jalan.

BACA..  Tiga Pelaku Curanmor Ditangkap Polisi, Lima DPO

Secara kultur tanah dan tingkat kelabilan badan jalan menjadi tak kokoh, sebab sepenuhnya tidak menggunakan allout batu split (batu pecahan berbentuk segi tiga), untuk mengikat pondasi badan jalan.

Tujuannya, agar, base yang disebar tidak timbul kepermukaan badan jalan yang akan diaspal, dengan dibubuhi batu split, agar kerangka badan jalan yang hendak diaspal terikat satu sama lainnya.

BACA..  Belajar Dari Pengalaman Pahit Untuk Berhasil

Base A nya juga ada indikasi belum memenuhi unsur yang dibutuhkan sebagai campuran di base A nya, seperti Kley nya berapa persen, Abu Batu (Abu semen) berapa persen, yang utama lagi saat memblending terlihat lebih banyak sertu dari pada abu batu dan batu pecah.

Hasil analisa atjehdaily dan beberapa teman media di lapangan, CV HSJ sengaja mengiritasi dari beberapa item percampuran untuk menghemat cost, mencari keuntungan besar melalui teknis pengerjaan jalan yang salah.

Sepertinya pepatah diatas bak ‘Meretas Rezeki Kotor’ ada benarnya, sebab; secara terang terangan dan sangat berani CV HSJ banyak mengabaikan prosedur yang sudah ditetapkan dalam Rab.

Tanya ke Konsultan, Saya Tidak Faham

Kepala Bagian Bina Bina Marga di Dinas PUPR Aceh Tamiang, Baihaqi Ahyat mengatakan, dirinya kurang faham secara teknis, dan menyarankan untuk menghubungi konsultan bersangkutan.

“Terkait penyebaran Base B dan Base A pada badan jalan yang dibangun itu, Agar tidak terjadi kesalahan dalam penulisannya,”.

Baihaqi juga mengatakan bahwa; paket pekerjaan jalan Paya Kulbi yang sudah dikerjakan tidak semua Base A, ada yang cuma Base B saja karena dananya tidak cukup.

“Base A dan Aspal Nanti lebih kurang 1200 Meter sisanya, Base B saja, lebih kurang 600 Meter. Untuk sambungan di Paya Awe, Base A dan Aspal lebih kurang 600 meter sisanya timbunan Pilihan Urfil lebih kurang 500 Meter,” jelas Boy (sapaan akrab Baihaqi Ayat).

Sedang open trapping (Pengetesan Kekuatan Jalan)

Lalu konsultan yang menangani untuk pembangunan jalan tersebut, CV PUK juga mengawasinya tidak secara optimal, sebab, jika diawasi secara optimal kontraktor pelaksana juga tidak berani bekerja secara serampangan seperti yang terjadi saat ini.

Apalagi dikatakan itu sudah tahap open trapping, artinya sudah lewat tahapan Base A nya, tetapi jika diamati seperti bukan Base A. Sementara pengakuan Konsultan Pengawas, dari CV PUK, Iskandar mengatakan, penyebaran batu dibadan jalan sudah Base A.

Sementara, jika itu Base A, sudah pasti tidak ada lagi batu bulat yang muncul dibadan jalan. Pernyataan Iskandar, batu yang muncul dipermukaan badan jalan, saat pengaspalan akan dicompresing (disemprot dengan angin) hingga batu batu yang muncul akan tersingkir ke pinggir.

Saat ditanya kenapa batu krikilnya bisa muncul ke permukaan, Iskandar menjelaskan, hal itu terjadi karena open trapping yang berlebihan kapasitas oleh truk yang melintasi badan jalan yang akan diaspal tersebut.

“Akibat, truk yang melebihi tonase, hingga memunculkan batu kepermukaan badan jalan, tapi itu semua akan rata kembali saat di kompressing, pakai mesin angin,” katanya.

Sementara, dari amatan media, tidak ada truk yang melintas dengan muatan yang berlebih, logikanya, meski dilewati melebihi tonase jika Base A nya lebih banyak Split, diyakini batu tidak akan muncul kepermukaan, malah sebaliknya yang timbul dipermukaan adalah batu kerikil bulat bercampur split.

Pernyataan konsultan pengawas bertolak belakang dengan hasil temuan media di lapangan. Menandakan kalau kinerja konsultan tidak serius mengawasi jalan yang menelan biaya Rp6,912 miliar tersebut.

Dua Datok Penghulu Layangkan Surat

Selain itu, Pada tanggal 21 Juli 2020 lalu, Datok Penghulu Kampung Paya Awe Kecamatan Karang Baru, Zulfikar melayangkan surat kepada Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Aceh Tamiang dengan nomor surat : 241/2026/2020 dengan sifat surat Penting/Segera.

Dalam surat tersebut atas nama masyarakat, Datok Penghulu Kampung Paya Awe meminta kepada Kepala Dinas PUPR Aceh Tamiang untuk melanjutkan Pengaspalan Jalan Paya Awe Karang Baru ‘Tidak Boleh Kurang Dari 600 Meter’

Sementara itu Datok Penghulu Kampung Paya Kulbi Kecamatan Karang Baru, Azis Abdullah, S.sos juga melayangkan surat kepada Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Aceh Tamiang tertanggal 22 Juli 2020 dengan nomor surat : 670/346/2020 dengan perihal surat Keberatan Pembongkaran Bestcost.

Dalam surat Datok Penghulu Kampung Paya Kulbi tersebut menyatakan dengan akan dibongkarnya Basecourse yang sudah dilakukan pengerasan jalan Kampung Paya Kulbi, karena adanya kesalahan dalam pengukuran. Kami seluruh masyarakat merasa keberatan dan menolak tentang pembongkaran Basecourse tersebut.

Kemudian dalam surat tersebut juga menegaskan Kami menerima bila pengaspalan hanya 1.200 meter. Dan kami berharap perkerjaan pengaspalan dilanjutkan Tahun 2021 mendatang.

Akibat kedua Datok Penghulu tersebut melayangkan surat kepada Dinas PUPR Aceh Tamiang, hamparan Basecourse yang sudah dihamparkan di Paya Kulbi dibongkar kembali dengan menggunakan Escavator (Beko) dengan perkiraan pembongkaran lebih 200 meter.

Menyikapi persoalan tersebut, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada Dinas Perkerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kabupaten Aceh Tamiang, Baihaki Ahyat, ST. MT membenarkan adanya persoalan antara Kampung Paya Awe dan Paya Kulbi terkait titik pelaksanaan perkerjaan.

“Iya benar ada persoalan, dan sudah dibongkar Base Cost-nya sepanjang 200 meter. Tapi sekarang sudah selesai, dan tidak pembongkaran Base Cost lagi. Kedua belah pihak sudah setuju untuk terus dilanjutkan,” sebut Baihaki.

Menurutnya kedua belah pihak sudah sepakat untuk pengerjaan pengaspalan tersebut masing – masing untuk Kampung Paya Awe sepanjang 600 meter dan untuk Kampung Paya Kulbi diperkirakan pengaspalannya sepanjang 1.100 meter.

“Insyaallah persoalan sudah selesai dan sudah sepakati 600 meter di Paya Awe dan 1.100 meter di Paya Kulbi,” ujarnya. (Syawaluddin)