banner 700250

,

Dorong Ketahanan Pangan Melalui Pompanisasi Bertenaga Surya

oleh -227 views

banner 700250

KUALASIMPANG (AD) – Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang merupakan kabupaten berpenghasilan dari sektor Perikanan dan Kelautan, Perkebunan, Pertanian dan Migas. Itu merupakan produk unggulan di wilayah pintu gerbang memasuki provinsi Aceh.

Infrastruktur pertanian di kabupaten Aceh Tamiang masih sangat minim, irigasi, pompanisasi untuk mengairi persawahan masyarakat, sebagai upaya meningkatkan produksi gabah kering.

banner 700250

Banyak potensi yang belum digarap secara optimal, rata rata persawahan di Kabupaten Aceh Tamiang merupakan sawah tadah hujan, baru sebahagian kecil mengandalkan irigasi.

Berdampak kepada, minimnya produktifitas gabah kering, baik ekonomi masyarakat ataupun setoran kepada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Aceh Tamiang.

Hal itu ditegaskan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tamiang, Suprianto, ST kepada atjehdaily.id. melalui percakapan seluler, Minggu 26 Juli 2020. Dikatakan banyak program yang harus didorong menggunakan Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara (APBN) serta Otsus.

Dan itu bisa dikolaborasi dari kedua anggaran tersebut untuk meningkatkan produksi sektor pertanian, khususnya padi di Aceh Tamiang.

Suprianto menginisiasi tiga kecamatan (Manyak Payed, Bendahara dan Banda Mulia) sebagai demplot persawahan pompanisasi yang digerakan dengan Dinamo solarcell (tenaga matahari) untuk mendongkrak hasil produksi gabah kering dan mutu padi.

Pihak DPRK akan mendorong agar dana APBN dan Otsus bisa diperuntukkan bagi program Pompanisasi di tiga kecamatan tersebut. Diharap mampu meningkatkan produksi padi untuk menyahuti program ‘Ketahanan Pangan Nasional’ dalam menghindari beras impor.

“Ini kita yang inisiasi, untuk meningkatkan produksi gabah kering dan mutu padi. Anggarannya kita dorong dari APBN dan Otsus dan disesuaikan peruntukkannya didaerah,” kata Suprianto.

Masih Suprianto, program Pompanisasi Dinamo bertenaga Surya, yang digerakan dengan katup klep, menjadi sangat efektif dan status sebagai alat pengairan dengan semi moderen.

“Petani tidak susah lagi untuk memikirkan minyak, lalu mengengkol mesin, sebab tenaga nya dihasilkan melalui Tenaga Surya, sebagai penggerak Dinamonya,” jelasnya.

Menurut Suprianto, luas garapan yang ada di tiga kecamatan, lebih kurang 300 hektar. Kata dia, kegiatan tersebut merupakan Demplot pengalihan dari Sumur Bor ke Pompanisasi bertenaga Surya dengan menggunakan Dinamo sebagai alat penggerak Pompa.

Dikatakan, fokus program yang sedang berjalan itu, adalah didaerah sentra air, namun belum ada irigasi, “Ya kita fokus didaerah sentra air, untuk mengaplikasikan menjadi pompanisasi berbasis Dinamo bertenaga surya,” katanya.

Mengingat persawahan, yang pengairannya menggunakan sistim bor dirasa belum mencapai hasil optimal, belum menampakkan peningkatan hasil produksi gabah kering.

“Saya siap mendorong agar pemerintah menyiapkan alokasi biaya dari APBN atau Otsus, agar pertanian di Kabupaten Aceh Tamiang, maju dan berkembang sesuai tuntutan zaman dalam era globalisasi,” jelasnya.

Sebagai ketua DPRK Aceh Tamiang, Suprianto merasa bertanggungjawab untuk meningkatkan hasil produksi padi, dalam upaya menjadikan nilai tambah ekonomi dimasyarakat dan peningkatan PAD di kabupaten ujung timur Aceh tersebut. (Syawaluddin).

banner 700250

banner 700250