banner 700250

Aceh Zona Hijau Covid -19 Karena Pertolongan Allah SWT

oleh -354 views

banner 700250

banner 700250

Banda Aceh (AD)- Sejak wabah virus Corona atau Covid -19 menyerang Indonesia, hampir semua daerah menerapkan protokol kesehatan sebagai langkah pencegahan dari penularan virus mematikan asal Wuhan China ini.

Hampir disemua pusat keramaian ditutup untuk memutuskan mata rantai penularan virus yang sudah merebak hampir di seluruh belahan dunia, tak terkecuali Aceh.

banner 700250

Pemerintah Aceh sempat memberlakukan Jam Malam bagi warganya agar tidak terjadi lagi penumpukan orang di tempat-tempat umum, seperti Warung kopi (Warkop) bahkan beberapa Masjid pun sempat menerapkan Shalat berjamaah sesuai dengan protokol kesehatan.

Namun, dalam pemberlakuan Jam Malam di Aceh, hanya bertahan sekitar sepekan saja. Dimana Pemerintah Aceh telah mencabut kembali penerapan aturan tersebut dikarenakan mendapat protes keras dari banyak pihak terutama dari kalangan masyarakat yang sempat merasakan trauma pada masa konflik Aceh, termasuk juga Kepala Ombusdman RI perwakilan Aceh, Dr Taqwaddin Husin.

Setelah pemberlakuan Jam Malam dicabut, masyarakat kembali melakukan aktivitas dengan berkumpul seperti biasanya di warkop, Shalat Jamaah di masjid-masjid mulai kembali digelar sebagaimana biasanya tanpa harus mengikuti protokol kesehatan.

Seperti diketahui, jika mengikuti protokol kesehatan pencegahan Covid -19, maka shalat berjamaah pun harus dengan cara menjaga jarak 1 hingga 1,5 meter.  Namun, masjid di Aceh lebih memilih merapatkan saf.

Lainnya hal nya dengan pusat perbelanjaan seperti Pasar Aceh, Pasar Peunayong serta di pusat keramaian lainnya pun ikut beraktivitas seperti biasa, walaupun gencarnya pemberitaan tentang bahaya dari penyebaran Covid -19.

Disisi lain, masyarakat Aceh juga terkesan seperti tidak peduli dengan imbauan Pemerintah, hal itu terlihat pada saat Juru bicara (Jubir) Covid -19 Pemerintah Aceh Saifullah Abdul Gani (SAG) mengumumkan bahwa Pemerintah Aceh telah menyediakan tanah kuburan massal untuk pasien terpapar Covid -19.

Apa yang telah disampaikannya tersebut, sempat menyulut kemarahan dari warga Aceh, sehingga pria yang kerap disapa SAG ini menarik kembali pernyataan tentang tanah kuburan massal yang disediakan khusus untuk pasien terpapar virus Corona.

Dibalik ini semua, ada hal yang menarik. Ketidak patuhan warga Aceh terhadap pemberlakuan protokol kesehatan seperti yang dianjurkan oleh Pemerintah, Aceh justru menjadi salah satu Provinsi Zina Hijau. Artinya, hingga saat ini, Tanah Serambi Mekkah masih terhindar dari penularan virus yang sangat mematikan ini.

Bahkan Pemerintah Pusat pun mengaku kagum dan menjadikan Aceh sebagai salah satu daerah sukses dalam pencegahan penyebaran virus Covid -19. Padahal, masyarakatnya sangat batat (bandel), atau kurang mengindahkan imbauan mengenai protokol kesehatan.

Lantas apa yang menyebabkan Aceh bisa terhindar dari penularan virus yang sangat mematikan tersebut. Sementara daerah lainnya tidak. Menurut Ketua Front Pembela Islam (FPI) Aceh, Tgk Muslem At Thahiry, terbebasnya Aceh dari penularan virus karena Allah SWT yang menghendakinya.

“Selama kita masih mendekatkan diri kepada Allah SWT, patuh kepada para ulama, berusaha berbuat kebaikan, serta menjauh dari kemungkaran atau kemaksiatan, maka Allah pasti akan menolong kita” kata Tgk Muslem, Senin 1 Juni 2020.

Menurut Tgk Muslem, tidak ada yang mustahil bagi Allah. Karena itu, Ketua FPI Aceh ini mengaku tidak henti-hentinya mengajak ummat bertobat dan mendekatkan diri kepada Allah serta menjauh dari perbuatan maksiat.

“Memang kita tidak menantang maut, tapi menjauhkan diri dari Allah juga tidak benar. Maka shalat berjamaah dan silaturrahmi itu sangat penting. Selain itu, kita juga harus banyak bersedakah agar Allah menjauhkan kita dari segala bala (musibah),” ungkap Ketua FPI Aceh.

Bukan itu saja, kata Tgk Muslem, jika ada warga Aceh yang terpapar virus atau gejala sakit, maka diminta menahan diri dan jangan takut berobat.

“Kalau bandara dan perbatasan Aceh ditutup total, Insyaallah wabah itu tidak sampai di Aceh. Pemerintah Aceh hanya perlu menutup itu saja, agar masyarakat Aceh aman. Jangan hanya bisa melarang ummat untuk shalat berjamaah, sementara akses masuk ke Aceh tidak ditutup,” tegas Pimpinan Dayah Darul Mujahidin Lhoksemawe itu.

Diakhir penyampaiannya, Tgk Muslem mengajak Plt Gubernur Aceh menanyakan pendapat dan melibatkan para ulama sebelum mengambil suatu kebijakan penting.

“Ulama harus dilibatkan, apalagi Aceh telah menerapkan syariat Islam. Jangan meninggalkan ulama dalam setiap pengambilan kebijakan penting. Seperti intruksi terbaru tentang pendidikan,” demikain harap Ketua FPI Aceh Tgk Muslem At Thahiry. (AF/R)