banner 700250

Distan dan Pangan Kota Sabang Awasi Pasar Daging Meugang

oleh -169 views

banner 700250

banner 700250

Sabang (AD) – Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang awasi setiap hewan yang dipotong atau sembelih yang dijual di pasar tradisi Daging Meugang Hari Meugang, untuk menghindari adanya hehan yang dipotong tidak sehat.

Pada hari pertama Meugang ditemukan 4 hati dari 4 ternak sapi yang disembelih oleh para pedagang daging sapi musiman. Temuan ini setelah diperiksa oleh Tim Pemeriksa pemotongan ternak dari Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang, dilokasi pedagang ternak Sapi, jalan Malahayati Kuta Barat Kecamatan Sukakarya Kota Sabang.

banner 700250

Hal tersebut disampaikan Kadis Pertanian dan Pangan Fachry SE, MAP yang turun langsung kelokasi tempat penjualan daging yang didampingi Kabid Peternakan drh. Jaya Saputra dan para Petugas Penyuluh Peternakan Dinas Pretanian dan Pangan Kota Sabang.

Fachry SE, MAP selaku Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang memerintahkan kepada Petugas Penyuluh Peternakan untuk menyita ke empat Hati ternak sapi dan selanjutnya dimusnahkan agar tidak dikonsumsi oleh masyarakat, karena akan bisa tertular ke tubuh manusia.

“Setiap ternak Sapi yang akan diperjual belikan dimasyarakat baik disaat hari Meugang begini maupun saat pemotongan hari hari biasa, hati ternak sapi selalu diperiksa dengan teliti oleh Penyuluh Pertanian dan seorang tenaga tekhnik lapangan seorang dokter hewan. Hal tersebut gunanya agar hati ternak sapi yang telah terkontaminasi dengan penyakit Faciola Hepatica (penyakit hati) yang dapat tertular kemanusia, tidak dikonsumsi oleh masyarakat, kata Fahry SE. MAP.

Pada kesempatan yang sama, drh. Jaya Saputra selaku Kabid Peternakan menerangkan tentang penyakit Faciola Hepatica dan cirri cirinya dan dikatakannya, Fascioliasis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit Fasciola. Dua spesies Fasciola (tipe) menginfeksi manusia. Spesies utama adalah Fasciola hepatica, yang juga dikenal sebagai “cacing hati yang umum” dan “cacing hati domba.” Spesies terkait, Fasciola gigantica, juga dapat menginfeksi manusia. Ini adalah penyakit parasityang umum terjadi dan terdistribusi secara cosmopolitan

Cacing hati menular pada ternak melalui siklus hidup yang berpindah. Cacing Fasciola dewasa bertahan hidup di dalam hati ternak antara 1-3 tahun. Telur cacing akan keluar dari tubuh ternak bersama feses. Pada lingkungan lembab, telur tersebut dapat bertahan antara 2-3 bulan. Telur Fasciola hepatica menetas dalam 12 hari pada suhu 26°C, sementara telur Fasciola gigantica menetas dalam 14-17 hari pada suhu 28°C. Penetasan yang umumnya terjadi pada siang hari itu mengeluarkan mirasidium, ujar Jaya Saputra.

Dijelaskannya, Mirasidium memiliki rambut getar yang sangat aktif berenang di dalam air. Ia akan mencari induk semang yang sesuai, yaitu siput. Setelah mirasidium menemukan siput, rambut getarnya akan terlepas dan mirasidium menembus masuk ke tubuh siput. Dalam waktu 24 jam, mirasidium berubah menjadi sporosis. Delapan hari kemudian, sporosis tersebut akan berkembang menjadi redia.

Selanjutnya, redia akan menghasilkan serkaria dan keluar dari tubuh siput. Serkaria dapat berenang saat berada di luar tubuh siput, kemudian menempel pada benda di dalam air. Termasuk di antaranya rumput, jerami, sayuran, atau tumbuhan air lainnya. Hewan ternak akan terinfeksi ketika memakan tumbuhan atau meminum air yang terkontaminasi serkaria.

Di dalam tubuh ternak, serkaria menjadi cacing muda. Dampak infeksi ini cukup buruk. Ia bisa membuat pertumbuhan ternak terhambat, kurus, produktivitas ternak menurun, bahkan menyebabkan kematian,

Meskipun selama ini hati daging ternak yang terinfeksi cacing hati aman dikonsumsi, manusia tak otomatis terhindar dari penyakit fasciolosis. Penularan penyakit ini dapat terjadi akibat penggunaan air yang tercemar serkaria Fasciola. Jika air yang terinfeksi itu diminum dalam keadaan mentah .

Dan Penularan fasciolosis oleh Fasciola hepatica dapat terjadi jika Anda mengkonsumsi hati mentah seperti dilakukan sebagian masyarakat Eropa. Hal ini ditunjukkan dalam penelitian oleh Taira N dkk yang memberi makan tikus dengan hati terkontaminasi Fasciola hepatica. Hasilnya, cacing tersebut dapat berkembang, jelasnya.(Jalal).