banner 700250

Pengembang Kesulitan Membayar Tukang dan Distributor

oleh -451 views

banner 700250

banner 700250

Banda Aceh (AD)- Asosiasi Pengembang dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Aceh mengapresiasi atas terbitnya penambahan kuota subsidi SSB dan SBUM.

“Penambahan kuota ini, adalah langkah tepat, dimana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) saat ini telah habis. Dengan terbitnya subsidi kuota SSB dan SBUM, maka Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) kini bisa memiliki rumah,” kata Ketua DPD Apersi Aceh Afwal Winardy, merespon apa yang telah disampaikan Sekretaris Jenderal DPP Apersi Daniel, Minggu 17 Mei 2020.

banner 700250

“Dengan terbitnya SSB dan SBUM ini, diharapkan, dapat segera diserap oleh konsumen MBR. Adapun stimulus tersebut, setidaknya dapat menambah 175.000 unit rumah subsidi,” ujar Afwal.

Namun Daniel mencatat, penambahan kuota tersebut juga harus dibarengi dengan kemudahan dalam pelaksanaan akad kredit kepemilikan rumah (KPR). Dan kita mendorong pihak Bank yaitu BTN dan BNI, agar dapat mencari solusinya.

“DPD Apersi Aceh mendukung langkah yang telah diambil oleh DPP, dan kita juga mendorong stimulus ini, karena dinilai sangat bagus,” ucapnya.

Di Aceh kata Afwal, pihak Bank BTN Syariah sebagai penyelenggara, belum mampu melaksanakan akad, walaupun penerbitan Sp3K bagi calon konsumen sudah keluar sejak satu dan dua bulan.

“Mereka berdalih, belum bisa diproses karena belum ada kuota rumah. Alasan pihak Bank, akad baru bisa dilaksanakan bulan depan,” ungkap Ketua DPD Apersi Aceh.

Sangat disayangkan, jika kita melihat kondisi para pengembang, mereka telah didera dengan berbagai permasalahan sejak lima bulan lalu, belum lagi dimasa sulit seperti saat ini, para pengembang harus benar-benar ikat pinggang.

“Jika dilihat dari segmen property ini, setidaknya bisa menghidupkan 150 sektor industri lainnya. Disatu sisi, pemerintah sedang berjuang keras agar negara dan rakyatnya mampu bertahan menghadapi Pandemi Covid -19 ini.

Selain itu, ia juga menambahkan, di Aceh saat ini masih banyak para pengembang yang belum bisa melaksanakan akad KPR bagi konsumen, sehingga menjadi masalah utama terganggunya cashflow.

“Apalagi menjelang hari raya Idul Fitri yang tinggal hitungan hari lagi, dimana para pekerja (tukang) dan distributor tidak bisa lagi menahan beban yang harus dibayarkan,” imbuhnya.

Harapan kita, harus segera ada solusi jangan jadi penghambat, gara-gara Konversi dari Konvensional ke Syariah menjadi faktor hambatan sangat besar bagi pengembang untuk menjalankan usaha dan harapan.

“Provinsi Aceh masih menjadi iklim usaha yang cukup baik bagi para pengusaha properti dan para investor lainnya, jika saja kemudahan dan percepatan menjadi prioritas utama,” pungkas Afwal Winardy. (AF)