banner 700250

‘Bailley’ Riwayatmu Kini

oleh -482 views

BLANGKEJEREN (AD) – Masih kuat diingatan kita, Pelaksana Tugas Gubernur Pemerintah Aceh, Nova Iriansyah pada medio 2019 lalu meresmikan pemakaian jembatan penghubung Bailley antar kabupaten. Kampung Lesten Pemerintah Kabupaten Gayo Lues menuju Kuala Blutan Aceh Tamiang.

Jembatan itu kini roboh, dihantam buritan air bah, Daerah Aliran Sungai (DAS) Lawe Alas. Sumringah warga Kampung Lesten kecut, sebab mereka harus mengandalkan ganasnya sungai Lawe Alas lagi untuk mengangkut hasil panen Jagung, Coklat dan Kopi mereka.

Mimpi indah mereka tergerus bersama air bah yang menghanyutkan satu satunya jembatan penghubung antar kabupaten dan akses petani membawa hasil buminya.

“Kini kami harus menyeberang dengan sampan lagi, melawan arus deras DAS Lawe Alas. Sampai kapan lagi, kondisi kilas balik kebelakang ini harus kami jalani lagi?, kami berharap perhatian pemerintah untuk membangun kembali jembatan yang roboh itu, sebab jembatan Bailley itu jantung penghubung bagi kampung Lesten,” jelas Karim 42 tahun kepada atjehdaily.id Kamis 16 Juli 2020.

BACA..  Hentikan Penertiban Krueng Aceh

Kejadian pada Minggu 12 Juli 2020 lalu itu menyontakkan warga Kecamatan Pining dan Kampung Lesten. Sekitar pukul 14:00 WIB hujan lebat mengguyur kabupaten berjuluk Seribu Bukit, menagis pilu.

BACA..  Jalan Gampong Lambheu Berkubang

DAS Lawe Alas memuntahkan kandungannya, menghanyutkan potongan pohon kayu yang tumbang karena digerus arus deras. Amukkannya membawa jutaan ton material yang ada dihulu sungai.

Jembatan penghubung Bailley roboh. Diluluhlantakkan oleh material dan potongan pohon kayu, hanya rentang waktu 12 jam, 14:00 WIB – 02:00 WIB dikabarkan oleh penghulu Kampung Pining, Ahmad. Jembatan penghubung Bailley hanyut.

Harapan Ahmad, agar Pemerintah Kabupaten Gayo Lues dapat segera memperbaiki jembatan yang roboh tersebut. Mengingat satu satunya sarana penghubung untuk mengeluarkan hasil bumi yang ada diwilayah Kecamatan Pining.

Memang, Minggu pekan lalu itu merubah wajah Kampung Pining menjadi keterbelakangan kembali, wajah wajah cerita itu kecut, baru hitungan bulan mereka menikmati bahagia, kini harus menangis karena sekarat dalam sarana dan prasarana.

Hujan berhari hari itu, mupuskan asa mereka untuk merubah wajah ekonomi yang carut marut menjadi lebih baik, hanya penantian panjang yang tak bertepi. “Tak tahulah, sampai kapan kami harus memutar balik waktu dimana kami terpuruk karena terisolir,” kata Ahmad.

Menurutnya, seluruh tanaman jagung yang tinggal panen tersebut, hancur. Masyarakat gagal panen. Sendi sendi ekonomi warga Kampung Lesten porak poranda, akibat air bah.

Mimpi indah mereka terkubur, bersama potongan pohon kayu dan jutaan ton material yang dimuntahkan amarah DAS Lawe Alas. Akibat hujan yang berkepanjangan. Sampai kapankah mimpi buruk ini terpaku dan berlau bersama wajah wajah kecut warga Kampung Lesten. (M Hasan).