Pertanyakan Isu Makanan Mengandung Boraks dan Formalin, Sekjen BEM Unsyiah Kunjungi BPOM

oleh -98 views

Banda Aceh (ADC)- Sekretaris Jenderal Badan Eksekutif Mahasiswa (Sekjen BEM) Unsyiah Sumardi, melakukan audiensi dengan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kota Banda Aceh.

Kedatangan Sekjen BEM Unsyiah ke BPOM bertujuan, untuk memastikan langsung kabar yang sangat meresahkan masyarakat umum, terkait dengan ditemukannya makanan yang mengandung boraks dan formalin di kawasan Peunayong, Rukoh, dan beberapa kawasan di daerah Banda Aceh bahkan Provinsi Aceh keseluruhan.

“Audiensi yang kita laksanakan hari ini, untuk memastikan kabar mengenai hal tersebut. BEM Unsyiah langsung hadir untuk mengadvokasi tentang ditemukanya makanan yang mengandung boraks dan formalin. Sehingga menimbulkan keresahan dikalangan mahasiswa dan masyarakat pada umumnya,” ujar Sumardi dalam siaran persnya kepada media ini, Senin 13 Mei 2019.

Pada saat mengunjungi BPOM, Sekjend BEM Unsyiah turut di dampingi Menteri Polhukam M. Dwi Ardi dan beberapa staf dari kementerian Polhukam itu sendiri.

Selain itu, BEM Unsyiah juga menyampaikan beberapa rekomendasi kepada BPOM Banda Aceh, mengenai beberapa hal lainnya. Diantaranya adalah:

1. Memberikan informasi terkait ruang lingkup kinerja BPOM di Banda Aceh dan cabang yang ada di luar kota, serta melakukan kerja sama secara baik dengan pemerintah setempat.

2. Memberikan informasi, dan edukasi kepada mahasiswa dan masyarakat tentang bagaimana memilih olahan pangan yang sehat dan tidak terindikasi boraks dan formalin.

BACA..  Dandim Aceh Utara Paparan Konsep Strategi Binter di Dunia Maya

3. Bersedia bekerja sama dengan mahasiswa untuk mensosialisasikan dan mengajak mahasiswa ikut serta dalam kegiatan sidak (inspeksi mendadak) ke lapangan.

Dalam kunjungan ini, pihak BEM Unsyiah langsung disambut oleh Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Banda Aceh Drs. Zulkifli, Apt.

Dalam kesempatan tersebut, Drs. Zulkifli menyampaikan, bahwa Sidak yang dilakukan dalam beberapa waktu yang lalu, adalah salah satu bentuk kerja dari BPOM untuk mengawasi obat-obatan, kosmetik dan olahan pangan kemasan khususnya takjil.

Menurutnya, momen bulan ramadhan ini adalah, waktu dimana olahan pangan begitu banyak beredar di kalangan mahasiswa dan masyarakat untuk berbuka puasa.

“Di mana kelayakan suatu bahan pangan olahan seperti makanan ringan kemasan, susu kemasan, dan jajanan anak sekolah menjadi objek utama dari BPOM,” katanya.

Sedangkan, yang dilakukan pada hari sabtu lalu dengan melakukan sidak (inspeksi mendadak) di beberapa daerah di Banda Aceh yang melibatkan jajaran Pemerintah Kota Banda Aceh dan juga bekerja sama dengan BPOM.

“Sehingga, tidak semua hal yang bekaitan dengan makanan menjadi tanggung jawab BPOM secara keseluruhan, melainkan ada juga campur tangan dari pemerintah melalui dinas terkait yang bertanggungjawab,” ungkap Zulkifli.

Ia juga menjelaskan, misalnya olahan pangan segar seperti sayur-mayur, buah-buahan dan lain lain, untuk mengetahui kelayakan atau kandungan pestisida di dalamnya, itu menjadi tugas dari Dinas pertanian.

“Untuk contoh lainnya adalah, olahan pangan rumah tangga seperti kerupuk, depot air isi ulang, garam, dan lain lain, itu juga merupakan tanggungjawab dari Pemerintah Provinsi Aceh,” ungkapnya lagi.

Lebih lanjut ia menambahkan, ketika didapatkan makanan yang mengandung boraks dan formalin, BPOM sebenarnya tidak memiliki wewenang untuk menindaklanjuti hal tersebut.

“Karena hal itu, bukan merupakan tugas dan fungsi dari BPOM itu sendiri. Tindak lanjut dari temuan makanan-makanan yang terindikasi boraks, formalin, dan bahan-bahan kimia, akan ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Banda Aceh,” tutup Kepala BPOM Kota Banda Aceh ini. (Ahmad Fadil)