Aktivis Mahasiswa UIN Desak BEM Se Aceh Klarifikasi Dana Hibah Refocusing

oleh -730 views

example banner

Laporan | Ahmad Fadil

Banda Aceh (AD)- Akhir-akhir ini viral di media sosial terkait 100 lembaga sebagai penerima dana hibah refocusing Covid -19. Diantara 100 nama lembaga tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Aceh juga tercantum sebagai penerima dana hibah refocusing.

Masuknya nama BEM di Aceh sebagai penerima dana hibah tersebut, tertuang dalam Surat Keputusan Gubernur Aceh Nomor 426/1675/2020 Tentang Penetapan Penerima dan Besaran Dana Hibah Kepada Badan/Lembaga/Organisasi Swasta dalam rangka pengamanan Corona Virus Disease Provinsi Aceh 2020.

Menyikapi hal tersebut, aktivis mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Sulthan Alfaraby mengatakan, pihaknya mendesak Aliansi BEM Se Aceh agar dapat mengklarifikasi kepada publik terkait beredarnya nama-nama Badan Eksekutif Mahasiswa didalam daftar penerima dana hibah refocusing dari Pemerintah Aceh.

BACA..  Usman Lamreung: Qanun Tata Niaga Salah Satu Solusi Terbaik Atasi Kemiskinan di Aceh

Pada dasarnya, kata Alfaraby, aliansi BEM se Aceh pada waktu itu melakukan aksi, salah satunya terkait transparansi dana Covid -19. Namun sekarang BEM se Aceh telah menjadi sorotan publik dikarenakan masuk dalam daftar penerima dana hibah dari pemerintah.

“Agar permasalahan ini tidak berlarut-larut, pihaknya mendesak BEM SE Aceh mengklarifikasi kepada semua teman-teman yang lelah berjuang dengan mengorbankan waktu dan tenaga serta rakyat Aceh,” desak Alfaraby, Jum’at 15 Januari 2021 di Banda Aceh.

Ia merasa, ini adalah lelucon. Kok ada nama BEM masuk ke dalam daftar penerima dana hibah tersebut. Padahal, kemarin mereka (BEM) bersikeras tidak pro pemerintah.

Selain itu, aktivis mahasiswa UIN ini juga mempertanyakan manfaat dari dana hibah tersebut, dan apa urgensinya bagi kepentingan masyarakat. Pihaknya tidak mempermasalahkan soal jumlah dana yang diberikan asalkan jelas bermanfaat bukan untuk sekedar aksi seremoni semata.

“Mau itu 9 miliyar kek, 9 triliun kek tidak masalah. Nah, sekarang kita mempertanyakan manfaat dan urgensi dana itu bagi kepentingan rakyat Aceh dan bagaimana cara pemanfaatannya, karena itu juga hak rakyat,” ungkap Sulthan Alfaraby.

BACA..  Usman Lamreung: Qanun Tata Niaga Salah Satu Solusi Terbaik Atasi Kemiskinan di Aceh

Sebelumnya telah diberitakan, bahwa Sulthan Alfaraby menyarankan dana hibah Rp 9 miliar lebih tersebut jangan hanya sekedar dimanfaatkan untuk sosialisasi Covid -19, tapi lebih dimanfaatkan untuk mengadakan pelatihan dan peningkatan kreatifitas generasi bangsa demi mengurangi angka pengangguran, terlebih sejak pandemi Covid -19 ini berlangsung.

“Jika dana sebesar itu digunakan untuk sosialisasi, maka mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) juga mampu, bahkan tanpa mengeluarkan biaya besar,” pungkas aktivis mahasiswa UIN ini. (*)