Seluruh Fraksi di DPRK Bireuen Menyoroti Turunnya PAD

oleh -413 views

Bireuen (AD) – Seluruh Fraksi di DPRK Bireuen menyoroti dan menyingung tentang turunnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) seraya minta penjelasan Bupati Bireuen tentang pencapaian PAD yang disebut Fraksi Partai Golkar, turun 0,8 persen, dibadingkan dengan realisasi PAD tahun 2018.

Penanggap dari Fraksi Golkar, M Muhammad Amin AR mengungkapkan hal itu, pada pemandangan Umum fraksi-fraksi di DPRK Bireuen terhadap rancangan qanun Pertanggunganjawaban APBK Bireuen tahun 2019 dan tindak lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI tahun 2019 di gedung dewan setempat, Rabu (12/8).

Hadir dalam kesempatan itu, Bupati Bireuen Dr H Muzakkar A Gani, SH, M.Si, Pimpinan Sidang DPRK Bireuen, Rusydi Mukhtar, S.Sos dan Sauqi futaki, S.hil,I sebagai Wakil Ketua DPRK setempat, para anggota DPRK Bireuen, Sekwan, serta sejumlah para pajabat dan undangan lainnya.

BACA..  Gampong Juli Seupeung Kucurkan lagi BLT ke Masyarakat

Menurut fraksi Partai Golkar, yang diketuai Fajri Fauzan yang juga partai pengusung pasangan Fakar dalam pilkada lalu, bersama Partai Nasdem, Partai Demokrat, dan PDA, menyikapi hasil penelitian dan penelusuran terhadap Rancanun tentang Pertanggungajawaban tahun anggaran 2019 dan tindak lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (LHP-BPK-RI} Perwakilan Aceh atas Laporan Keuangan Kabupaten Bireuen tahun anggaran 2019, sehingga menimbulkan beberapa pertanyaaan.

BACA..  Gampong Juli Seupeung Kucurkan lagi BLT ke Masyarakat

Berdasarkan tindak lanjut LHP BPK RI, maka Fraksi Partai Golkar menyoroti pencapaian pendapatan asli daerah (PAD) tahun anggaran 2019 yang menurun 0,8 persen, dibandingkan dengan realisasi PAD tahun anggaran 2018 PAD Bireuen yang mencapai Rp 179.476.248,22. Sedangkan pada tahun 2019, malah turun menjadi 156.528.834,68. “Untuk itu, kami minta penjelasan Bupati Bireuen,” pinta M Amin AR yang kerap disapa Keuchik Min.

Sorotan hampir senada dilontarkan pelapor, M Jafar dari Fraksi Juang Bersama, yang berkeyakinan untuk membangun kekuatan ekonomi dan kemajuan pembangunan daerah serta kemandirian pemda sangat tergantung kepada kemampuan Pemda itu sendiri, dalam menggali potensi PAD-nya. Maka, dalam konteks ini, bila dilihat realisasi PAD, masih belum berimbang dengan potensi PAD, yang artinya, masih belum tertata dengan benar.”Baik sektor penginapan, restoran, café-café maupun sektor lainnya masih terjadinya kebocoran,” Ucap pelapor dari Fraksi Juang Bersama yang diketuai, Zulfikar, SE yang berkomitmen sebagai fraksi Oposisi di DPRK Bireuen, saat Bupati Bireuen masih dipimpin pasangan H Saifannur, S.Sos dan Dr H Muzakkar A Gani, SH, M.Si. (Sekarang, H Saifannur sudah meninggal dunia dan melajutkan kepemimpinannya oleh Dr H Muzakkar A Gani, SH, M.Si sebagai Bupati Bireuen, sekarang ini-red).

Fraksi Partai Partai Aceh lewat pelapor, Sufyannur juga menyinggung PAD yang disebutnya belum stagnan (jalan ditempat), dan sekaligus fraksinya meminta penjelasan Bupati Bireuen serta langkah –langkah konkrit terhadap permasahan ini. Dalam kesempatan itu, fraksinya memberikan contoh, pajak sarang burung walet yang ditargetkan sebesar Rp 50 juta, tapi hanya terealisasi Rp 13.115.000. “Atau Hanya 26, 23 persen., yang kondisi ini sungguh sangat kontras dengan perkembangan penangkaran burung walet yang terus meningkat,” papar Sufyannur.

Sementar Fraksi PKS PPP, PAN yang diketuai, Zulfahmi, ST, MT dengan Sekretarisnya, Mukhlis Rama juga minta penjelasan Bupati Bireuen menyangkut PAD, pengelolaan utang belanja dan utang kepada pihak ke tiga yang dikatakannya masih belum tertib. Pengelolaan pajak dan restribusi daerah yang masih juga belum tertip, yang tentu saja berakibat terhadap tidak optimalnya penerimaan PAD, yang diperlu adanya perhatian khusus pemerintah daerah terhadap penerimaan pajak daerah sektor perhotelan, rumah makan, sarang burung walet dan sektor lainnya agar dapat dikelola secara optimal melalui peraturan Bupati yang menganut sistem berbasis Online, ucap penanggap dari Fraksi PKS, PPP, dan PAN, Isnaini. (Maimun Mirdaz).