Usman Lamreung Desak Audit 100 Ormas Penerima Dana Hibah Refocusing

oleh -408 views

Laporan | Ahmad Fadil

Banda Aceh (AD)- Akademisi Universitas Abulyatama Aceh Besar, Usman Lamreung, mendesak dinas terkait untuk segera mengaudit siapa saja penerima bantuan dana hibah refocusing yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2020.

example banner

“Menurut informasi, ada 100 (seratus) Ormas di Aceh yang menerima kucuran dana dalam konteks penanganan Covid -19. Bantuan dana hibah ini tergolong dadakan, karena diluncurkan pada menit-menit terakhir berakhirnya tahun anggaran 2020.,” ungkap Usman Lamreung, Kamis 14 Januari 2021 di Banda Aceh.

Pemerintah Aceh melalui Gubernur Aceh Nova Iriansyah telah menerbitkan SK Nomor: 426/1675/2020 tentang Penetapan Penerima dan Besaran Dana Hibah Kepada Badan/Lembaga/Organisasi Swasta dalam rangka penanganan Corona Virus Dease 2019 di Provinsi Aceh Tahun 2020,

Badan/Lembaga/Organisasi swasta penerima dana hibah tersebut adalah, Organisasi Kepemudaan (OKP), Organisasi masyarakat (Ormas), dan Organisasi Kemahasiswaan di Provinsi Aceh.

BACA..  Update Terbaru: Densus 88 Amankan Lima Terduga Teroris di Aceh

“Besaran kucuran dana hibah refocusing untuk seratus Ormas tersebut, mencapai 9,5 Milyar,” kata Usman.

Terkait hal itu, publik mempertanyakan bagaimana penggunaan dana tersebut, serta realisasi programnya seperti apa. Apakah ada pengawasan dan evaluasinya, atau dana hibah refocusing itu bebas digunakan. Ini yang harus diaudit.

Selain itu, Usman juga mempertanyakan. Siapa yang mengevaluasi serta memverifikasi penentuan bagi penerima dana untuk Organisasi Kepemudaan, Organisasi masyarakat, serta Organisasi Kemahasiswaan itu. Apakah dalam penentuan tersebut, ada komisinya atau dalam istilah lainnya “Bungong Jaroe”.

“Agar tidak menimbulkan persepsi negatif dari publik, maka sudah sepatutnya Pemerintah Aceh memberikan klarifikasi terhadap bantuan dana hibah refocusing kepada seratus lembaga secara transparan, akuntabel, dan sesuai dengan Output yang diharapkan. Tapi bukan hanya sekedar sebagai serapan anggaran semata.,” ujar mantan relawan BRR Aceh-Nias 2005-2009 ini.

BACA..  Kasatlantas Polres Lhokseumawe Serahkan SIM Kolektif Kejaksaan Negeri

Tidak cukup hanya itu, Usman juga mempertanyakan bantuan dana hibah refocusing Covid -19 yang diberikan oleh Pemerintah Aceh pada akhir tahun itu, apakah semua lembaga penerima dana hibah telah melaksanakan dan merealisasikan programnya.

Jangan-jangan, kata Usman, pada bulan Januari 2021 ini, ada yang masih melaksanakan program tersebut. Jangan sampai, penggunaan dana refokusing Covid -19 tidak tepat sasaran dan tidak bermanfaat. Jadi, sudah sepatutnya dilakukan evaluasi serta pemantauan oleh dinas terkait, terhadap seratus Ormas penerima dana hibah tersebut.

“Dinas terkait didesak segera mengaudit siapa saja dari seratus Ormas penerima dana hibah refocusing itu. Jangan sampai, dalam pelaksanaannya tidak sesuai mekanisme, atau anggaran itu hanya dipakai untuk honor dan kegiatan seremoni semata,” desak Usaman Lamreung.

BACA..  Pemko Sabang Ikut Hadir Kongres Jamesta Indonesia

Selain itu, ia juga menegaskan, apakah dana sebesar 9,5 milyar itu mengalir ke masyarakat melalui program yang direalisasikan oleh lembaga penerima dana hibah, tapi kenapa kurang sekali publikasinya.

“Seharusnya, lembaga penerima dana hibah refocusing itu diberikan kewajiban untuk mempublikasikan penggunaan anggaran melalui program kepada masyarakat yang menjadi bagian dari upaya penanganan Covid -19,” imbuhmya.

Sepertinya, sebut Usman, dana hibah yang diberikan oleh Gubernur Aceh, Nova Iriansyah tersebut, adalah bagian dari investasi politik yang berbungkus dana hibah.

“Karena banyak juga Organisasi dan lembaga menjadi bagian dari Underbow partai politik penguasa,” tutup Usman Lamreung.