banner 700250

Mengenal Lebih Dekat MPTT- Indonesia

oleh -270 views

Banda Aceh (AD)- Keberadaan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I) di Aceh sudah hampir 20 tahun namun didaftarkan secara resmi di Kemenkumham dengan Nomor 02 tanggal 17 Oktober tahun 2016, saat ini jamaah MPTT-I sudah puluhan ribu jamaah, baik yang ada di Aceh maupun diberbagai propinsi serta sejumlah Negara di Asia Tenggara.

Dalam pelaksanaan Pengkajian Tauhid Tasawuf di Aceh selama ini, sering mendapat hujatan bahwa majelis ini membawa misi menyesatkan sehingga sejumlah Ulama di Aceh ikut terhasut bahkan ada masyarakat di kabupaten/kota di Aceh yang mengusulkan bahwa ajaran dari Abuya H. Amran Waly Al- Khalidi sesat dan harus ditolak kehadirannya, sehingga sangat meresahkan para jamaah MPTT-I.

“Bahkan aksi menolak Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf ini juga datang dari para tokoh yang nota bene dari MPU kabupaten Aceh Selatan serta sejumlah tokoh termuka disejumlah kabupaten di Aceh,” ujar Ketua MPTT-I Aceh, H. Kamaruzzaman, S.Pd, M.Pd dalam konfrensi pers, Selasa 13 Oktober 2020 di Banda Aceh.

BACA..  Kapendam IM : TMMD Pengabdian Untuk Negeri

 

Kemudian, pengurus MPTT-I di Aceh yang telah di akui keberadaannya hingga dibelahan negara di Asia, telah beberapa kali memohon kepada Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh untuk membuka ruang audensi, namun gagal sebab MPU belum memberi kesempatan bertemu kepada MPTT.

BACA..  Dukung Konservasi, Pangdam IM Lepas Tukik di Pulau Banyak

Selain itu, kata H. Kamaruzzaman, diberbagai media sosial juga sering muncul hujatan miring kepada MPTT dari berbagai kalangan yang belum mengenal ajaran dari Abuya H. Amran Waly Al-Khalidi. Bahkan ada juga kalangan yang mengartikan secara sepotong-sepotong ajaran Tauhid Tasawuf.

“Bahkan telah terjadi beberapa kali aksi anarkis dengan membakar nama posko MPTT, menyerang jamaah ketika hendak melakukan zikir tentunya dilakukan oleh kelompok anti MPTT,” ungkap Ketua MPTT-I Aceh.

Dalam perjalanan pengkajian tauhid tasawuf ini, pihak pengurus bersama guru dari dayah yang mendukung MPTT pernah juga melakukan audensi dengan Gubernur Aceh, Polda Aceh serta instansi pemerintah lainnya untuk menjelaskan keberadaan MPTT di Aceh. Sebab selama ini, keberadaan majelis telah di goreng atau terprovokasi oleh orang- orang yang tidak bertanggungjawab.

“Agar tidak meluas penolakan Pengkajian Tauhid Tasawuf di Aceh yang berujung konflik yang dilakukan secara sepihak dari segelintir warga yang tidak paham keberadaan MPTT-I di Aceh, para jamaah pengkajian tauhid tasawuf meminta kepada pemerintah Aceh untuk segera mencari solusi atau jalan keluar agar terhindar konflik antar masyarakat dalam menjalankan ibadah Pengkajian Tauhid Tasawuf di Aceh yang terbukti banyak jamaah sadar dan berbuat kebajikan,” pinta H. Kamuruzzaman.

Untuk diketahui, perkembangan awal pengkajian ini mulai dikembangkan dari pondok pesantren Darul Ihsan Pawoh pada tahun 1998 dengan mengadakan pengkajian secara kelompok dengan membuat majelis-majelis rutinan secara umum dan khusus dengan waktu yang telah ditentukan.

Berkembangnya MPTT-I ini dari desa ke desa di berbagai pelosok sampai ke perkotaan di berbagai daerah. Baik itu di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Batam, Jawa, Sulawesi (Manado), Gorontalo, Makasar, Kalimantan dan Papua. Selain itu, juga berkembang di Singapur, Malaysia, Thailand, Philipina, Brunai, Kamboja, China, dan juga Eropa/Turki, Tunisia, Mesir, dan Maroko dengan membuat beberapa kali seminar Muzakarah tingkat Asian dan Internasional yang dihadiri puluhan ribu jamaah.

MPTT pertama sekali berkembang di Meulaboh (Aceh Barat) pada tahun 2010, selanjutnya Seulanggor (Malaysia) tahun 2012, Blang Pidie (Abdya), Cibinong (Bogor) 2016, Gorontalo tahun 2017, Banda Aceh tahun 2018, Batam (Kepri) 2019 dan selanjutnya Gorontalo 2019.

Dengan berkembangnya ajaran kesufian ini, oleh kebanyakan Ulama di Aceh khususnya, gagal memahami bahkan menganggap bahwa ajaran ini memutarbalikan aqidah, merusak keimanan, bahkan menuduh murtad dan kafir. Sehingga merusak dan membakar balai pengajian, melempar dan merusak kendaraan serta pengusiran dan pelemparan jamaah yang sedang berzikir, kejadian tersebut umumnya di Aceh.

Saat ini jumlah jamaah MPTT-I hampir 50 ribu orang di seluruh Aceh. (AF)