Polemik IPAL Di Antara Situs Cagar Budaya

oleh -55 views
Usman Lamreueng
Usman Lamreueng

example banner

BANDA ACEH (AD)- Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Jaringan Air Limbah Kota Banda Aceh menjadi perhatian publik di Aceh dan Nasional.

Pasalnya, daerah pembangunan IPAL dan Jaringan Air Limbah itu merupakan situs arkeologi, cagar budaya, dan situs sejarah peradaban Islam di masa Kesultanan Aceh Darussalam.

“Protes terhadap Pemerintah Kota Banda Aceh untuk membatalkan pembangunan IPAL dan Jaringan Air Limbah juga disampaikan oleh peneliti, pemerhati, sejarahwan, agar situs cagar budaya dan sejarah peradaban Islam sebagai titik nol Kota Banda Aceh tetap terjaga,” ungkap pemerhati lingkungan, sosial, pemerintahan dan budaya Aceh, Usman Lamreung, Kamis kemarin.

Menurut Usman, pro dan kontra ini terjadi setelah Pemerintah Kota Banda Aceh menerima hasil dari penelitian pakar arkeologi yang menyebutkan bahwa nisan-nisan kuno dan kerangka manusia ditemukan di lokasi IPAL dan jaringan air limbah Kota Banda Aceh, itu merupakan situs Arkeologi (Warisan budaya), tapi tidak berupa makam raja atau keluarga raja pada masa Kesultanan Aceh melainkan bagian dari pemakaman masyarakat umum.

“Secara hukum, situs tersebut belum ditetapkan menjadi cagar budaya, sehingga keberadaan IPAL di sekitar situs dianggap tidak menyalahi aturan,” kata Usman Lamreung mengutip pernyataan Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman.

Seharusnya, sebut Usman, sebelum diambil keputusan final, Pemerintah Kota Banda Aceh melalui dinas terkait menseminarkan temuan peneliti arkeologi dengan melibatkan pakar sejarah lainnya yang telah melakukan penelitian tentang sejarah peradaban Islam di seputar Gampong Pande.

“Tujuannya adalah, agar ada kesepakatan atas temuan peneliti arkeologi tersebut dan kemudian baru dilahirkan rekomondasi, apakah tetap dilanjutkan pembangunan IPAL dan Jaringan Air Limbah Kota Banda Aceh atau dihentikan,” ujar Usman.

Selain itu, dikatakan, bahwa ada dua hal yang sangat penting untuk menjaga dan merawat situs sejarah dan peradaban Islam masa lalu yang sangat dibanggakan oleh bangsa Aceh sebagai titik nol Kota Banda Aceh atau pembangunan IPAL bagi masyarakat Banda Aceh.

Menurut Usman, sebelum mengambil keputusan hendaknya harus ada pertimbangan yang arif dan bijaksana terkait pembangunan IPAL dan Jaringan Air Limbah Kota Banda Aceh. Apakah dilanjutkan atau dipindahkan ke tempat lain.

“Jangan sampai generasi masa depan menganggap, penguasalah yang menjadi penyebab rusaknya situs sejarah dan peradaban Islam di Aceh hingga hilang tanpa jejak,” tegas Usman.