banner 700250

Meluruskan Suara Sejarah ‘Indonesia Masih Ada

oleh -195 views

(Untuk Pak Gamawan Fauzi)

DENGAN tidak mengengurangi rasa hormat, kepada pak Gamawan Fauzi (mantan Mendagri), yg berbicara di ILC tv one berapa hari lalu, ketika memberikan pendapatnya dlm diskusi ILC menyangkut reaksi masyarakat Mianang, atas pernyataan Puwan Maharani yang sangat mengecewakan orang Minang.

Namun dalam hal ini, saya tidak akan masuk dalam ranah itu. Yang ingin saya tanggapi adalah pernyataan pak Gamawan Fauzi, yang menyatakan dlm diskusi ILC itu, pertama soal sejarah sumbangan pesawat terbang masyarakat Minang utk Republik Indonesia.

BACA..  TNI Dan POLRI Berasal Dari Rakyat, Dimiliki Oleh Rakyat, Hasilnya Untuk Rakyat!

Yang kedua, soal pernyataan pak Gamawan Fauzi tentang sejarah suara radio “Indonesia masih ada” 1948, itu disuarakan oleh masyarakat Padang. Terus terang, dlm hal ini sama sekali saya tidak hendak membedakan daerah yang satu dgn daerah lainnya yang telah berjasa dlm mempertahankan kemerdekan Republik Indonesia.

BACA..  Peran Keluarga Cegah HIV/AIDS

Tapi yang hendak saya luruskan di sini, adalah soal sejarah sumbangan pesawat terbang masyarakat Padang utk Republik ini, seperti yang dikatakan pak Gamawan Fauzi.

Benar, pada tahun 1947 Panglima Komando Tertinggi Sumatera yang berkedudukan di Bukit Tinggi Manyor Jenderal Soehardjo Hardjowardojo meminta dukungan dana dari rakyat Bukit Tinggi (Padang) Sumatera, utk membeli sebuah pesawat terbang utk Angkatan Udara guna mudah memantau keamanan di daerah-daerah dari blokade Belanda pd agresi ke II. Tp dlm masa perang kemerdekaan itu rakyat Bukit Tinggi (Minang) sangat sulit mengumpulkan dana.

Akhirnya Panglima Komando Tertinggi Sumatera Soehardjo Hardjowardojo meminta Pimpinan badan usaha Central Trading Company (CTC) Letnan Kolonel Teuku Hamid Azwar (Samalanga) dan Letnan Kolonel Teuku M. Daud (Samalanga) kedua putra Aceh yg saat itu sebagai perwira Komando TNI Sumatera.

Letnan Kolonel Teuku Hamid Azwar (kakek dari Teuku Rifki Pasya, Sekjen Partai Demokrat sekarang) Letnan Kolonel Teuku M. Daud (keduanya putra Aceh dari Samalanga) Aceh Utara, saat itu menyanggupi membeli sebuah pesawat terbang jenis AVRO ANSON oleh Teuku Hamid Azwar dan Teuku M. Daud Samalanga, untuk digunakan sebagai pesawat terbang operasional TNI Republik Indonesia yg baru Merdeka.

Pembelian pesawat terbang jenis AVRO ANSON tahun 1947 di Thailan itu, dibayar dengan emas dari milik Cut Nyak Manyak (istri Teuku Hamid Azwar), dan dibantu oleh Teuku M. Daud. Jadi pesawat terbang itu bukan dibeli oleh masyarakat Padang, tapi dibeli oleh dua orang putra Aceh dgn menggunakan dana pribadi. Begitu sejarahnya pak Gamawan Fauzi.

Kemudian tahun 1948, masyarakat Aceh kembali menyumbangkan dua pesawat terbang jenis DAKOTA kepada Republik Indonesia, yg diberi nama Seulawah 01 dan Seulawah 02. Sebagai cikal bakal dari modal awal perusahaan penerbangan Garuda Indonesia.

Kemudian soal “Indonesia Masih Ada” Yang disuarakan masyarakat Padang. Lewat media apa saat itu Padang menyuarakan “Indonesia Masih Ada?”. Ini juga perlu diluruskan sejarahnya.

Sebab dalam sejarah perjuangan memoertahankan kemerdekaan Republik Indonesia 1948, semua sejarawan sepakat, “Indonesia Masih Ada” disuarakan oleh Radio Rimba Raya di pegununga Aceh, yaitu di Aceh Tengah (sekarang lokasi tempat beroperasinya Radio Rimba Raya yg dulunya menyiarkan “Indonesia Masih Ada”) berada di Kabupaten Bener Meriah Aceh.

Radio Rimba ini Milik Divisi 10 di bawah pimpinan Kolonel Husin Yusuf. Yang pengoperasian Radio Rimba Raya ini berada di bawah kordinadi Kapten A. Gani Mutyara. Radio yang beroperasi siarannya tiap tengah malam ini – untuk tidak bisa dilacak oleh Belanda agresi ke II 1948 ini – didiarkan dlm 6 bahasa. Yaitu bahasa Indonesia, Melayu, bahasa Inggris, bahasa Belanda, bahasa Urdu, dan bahasa Arab.

Radio Rimba Raya di Aceh ini, dalam siarannya terus membantah berita-berita propaganda Belanda, yang menyatakan bahwa Belanda telah menguasai kembali seluruh wilayah Indonesia. Radio Rimba Raya inilah yang terus mengcounter berita-berita bohong Belanda, dengan menyuarakan “Indonesia Masih Ada”, yaitu Aceh.

Siaran Radio Rimba Raya ini ditangkap oleh beberapa radio lain di luar negeri, seperti radio Newdelhi India, mereka mereli ulang siaran-siaran Radio Rimba Raya ini yang menceritakan “Indonesia Masih Ada” yaitu Aceh. Sehingga berita “Indonesia Masih Ada” Yang disiar ulang oleh radio-radio di luar negeri terdengar sampai ke negera-negara Eropa.

Yang dikatakan pak Gamawan Fauzi ILC tv one, mungkin juga ada benarnya, tapi sejarah juga tidak boleh dibohongi. “Indonesia Masih Ada” itu suara Radio Rimba Raya dari Aceh. (**)

(Nab Bahany AS : Seorang Penulis, Budayawan dan Wartawan Senior di Aceh. Tinggal di Banda Aceh)