Aset Lebih Rp.25 Triliun, Bank Aceh Butuh 800 Miliar Lagi, Untuk Apa?

oleh -89 views
example banner

example banner

Aset Lebih Rp.25

Berdasarkan laporan keuangan tahun 2020 yang disampaikan Haizir,  aset yang dimiliki Bank Aceh Syariah tumbuh 1,43 persen dari Rp25, 1 triliun pada tahun 2019 menjadi Rp 25,5 triliun pada tahun 2020. Begitupun dengan dana pihak ketiga (DPK), juga mengalami pertumbuhan sebesar 3,10 persen, dari Rp 20,9 triliun menjadi Rp21,5 triliun.

Takengon (AD)–Sebagai perbankan syariah milik daerah  yang pertama lahir di Indonesia, Bank Aceh diharapkan dapat menghadirkan sistem perbankan syariah terbaik di tanah air. Karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi komponen penting untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT, saat membuka rapat kerja PT. Bank Aceh Syariah Triwulan IV Tahun 2020, di Hotel Parkside Gayo Petro Takengon, Kamis, (11/3/2021).

Rapat tersebut juga diikuti oleh Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar. Adapun peserta rapat antara lain,  terdiri dari unsur dewan pengawas, komisaris, direksi, pemimpin divisi dan pemimpin cabang Bank Aceh Syariah.

“Sebagai Gubernur dan juga PSP (Pemegang Saham Pengendali) saya tentu ingin Bank Aceh Syariah menjadi yang terbaik, terutama di rumahnya sendiri, di negerinya sendiri. Prestasi ini harus kita tunjukkan dalam kinerja maupun pelayanan, karena itu harus ada perhatian lebih terhadap pengembangan SDM,”kata Nova Iriansyah.

Nova menilai, pengembangan SDM harus menjadi salah satu program penting Bank Aceh Syariah. Peranan suatu bank sangat ditentukan oleh peranan aparaturnya. Bahkan kinerja mereka menjadi ukuran bagi masyarakat dalam menilai seberapa baik pelayanan Bank Aceh.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur mengapresiasi laporan keuangan Bank Aceh Syariah tahun 2020 yang menunjukkan perkembangan positif. Ia berharap perkembangan tersebut dapat menjadi batu loncatan untuk menuju ke arah yang lebih baik lagi.

“Masyarakat tentu meminta lebih, kadang-kadang mereka ingin yang lebih kasat mata. Apalagi saat ini juga sudah hadir bank syariah lainnya di Aceh, tentu ini menjadi pembanding bagi nasabah. Karena itu, sebagai bank milik masyarakat Aceh kita harus bisa memberikan pelayanan yang sejajar dengan perbankan Syariah lainnya,”kata Nova.

Menurut Gubernur, membangun kolaborasi dengan perbankan syariah lainnya dapat menjadi salah satu cara untuk mewujudkan kesetaraan dalam memberikan pelayanan bagi nasabah.

Agar dapat berdiri sejajar dan bersaing dengan perbankan lainnya, kata Nova, Bank Aceh Syariah juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan ekonomi digital yang terjadi saat ini. Ia pun mengapresiasi peluncuran aplikasi mobile banking beberapa waktu lalu sebagai produk baru Bank Aceh Syariah dalam memberikan kemudahan pelayanan.

“Oleh sebab itu, kepada jajaran pengurus, direksi, dan seluruh keluarga besar Bank Aceh saya berharap tidak bosan-bosannya mengupdate kualitas layanan, menyetarakan fitur-fitur yang sarat teknologi dan mengevaluasi produk-produknya,”ujar Nova.

Senada dengan Gubernur, Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar, juga mendukung agar layanan Bank Aceh Syariah dapat terus meningkat sehingga nasabah dapat merasakan pelayanan terbaik. Peningkatan layanan tersebut harus diiringi dengan memaksimalkan kinerja pegawainya.

Sebagai salah satu pemegang saham, ia juga siap mendukung penambahan permodalan bagi Bank Aceh. “Bank Aceh harus bisa bersaing dengan perbankan lainnya di Aceh, baik syariah maupun konvensional, kami sebagai pemegang saham hanya berkewajiban menambahkan penyertaan modal agar Bank Aceh sejajar dengan perbankan lainnya,”ujar Shabela.

Sebelumnya, Direktur Utama Bank Aceh Syariah, Haizir Sulaiman melaporkan, selama pandemi melanda sepanjang tahun 2020 pertumbuhan perekonomian mengalami kemunduran, termasuk pertumbuhan keuangan perbankan. Namun demikian, berkat kinerja dan dukungan semua pihak pertumbuhan keuangan Bank Aceh Syariah tahun lalu tetap berada pada jalur positif meskipun tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya.