Puluhan Profesor dan Peneliti Dunia Bahas Kebencanaan di Aceh

oleh -73 views

Banda Aceh (ADC). Puluhan profesor dan peneliti kelas dunia, membahas persoalan kebencanaan di Aceh. Pembahasan itu, berlangsung dalam Konferensi Internasional Dwi Tahunan tentang manajemen risiko bencana dan pemulihan bencana tsunami yang berkelanjutan. Kegiatan ini, diselenggarakan oleh TDMRC Unsyiah, di Hotel Hermes Palace, Rabu 10 Oktober 2018. 
Sebanyak 136 pemakalah ilmiah yang diikuti lebih dari 10 negara ini, akan dipresentasikan pada konferensi itu.  
Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah mengatakan. Masyarakat Indonesia memang harus awas atas berbagai potensi bencana yang mengintai Indonesia. Secara geografis, Indonesia berada di jalur yang sangat rentan terjadinya bencana. “Kesiapan menghadapi bencana adalah keniscayaan,” kata Nova.
Lanjutnya, peristiwa bencana yang terjadi di Indonesia khususnya di Aceh, kata Nova, semakin membuka mata akan pentingnya melakukan respon cepat untuk mengatasi dampak bencana itu. Selain memberikan bantuan, tindakan evaluasi dan penelitian tentang langkah penanganan pasca-bencana perlu juga dilakukan.
Beberapa hal penting yang perlu ditangani dengan cepat,  adalah. Penanganan korban serta perbaikan lingkungan di kawasan bencana. Selain itu, perbaikan prasarana dan sarana umum, pembangunan rumah masyarakat, konseling trauma, pemulihan sosial ekonomi dan budaya, pemulihan keamanan dan ketertiban serta pemulihan fungsi pemerintahan dan pelayanan publik.
Untuk menjalankan semua langkah ini, dibutuhkan kesiapan aparatur dan lembaga terkait, agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi terkoordinir dengan baik. Selain itu, lanjut Nova, penelitian tentang keberlanjutan penanganan pasca bencana (Sustainable Disaster Recovery) juga perlu diperkuat. Penelitian itu dapat dijadikan sebagai acuan bagi aparatur dan lembaga terkait dalam menjalankan tugasnya di lapangan.
Karenanya, pemerintah Aceh memandang langkah TDMRC bersama international Research Institute Disaster Science dan Tohoku University Jepang, menggelar forum ilmiah itu sangat penting untuk merumuskan langkah-langkah efektif dalam penanganan setiap bencana.
“Penanganan bencana merupakan salah satu program prioritas kita sebagaimana tertuang di dalam RPJM Aceh 2017-2022,” kata Nova. Lewat pertemuan ini, diharapkan lahir rumusan efekif dalam penanganan bencana, terutama jika dipadukan dengan pemanfaatan teknologi agar penanggulangan berjalan lebih akurat dan proses recovery lebih cepat, efektif dan berkelanjutan.
Ada beberapa sesi dalam pertemuan ilmiah yang diisi oleh para pakar di bidangnya. Di antaranya adalah, Prof. Dwikorita Karnawati dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia; Prof. Phil Cummins dari Australian National University (ANU), Prof. Biswajeet Pradhan dari University of Technology Sydney (UTS), dan Prof. Benjamin P. Horton dari Nanyang Technological University (NTU). Selanjutnya ada Prof. Yusny Saby dari UIN Ar-Raniry; Prof. Peter Sammonds dari University College London; Prof. Shinichi Egawa dari Tohoku University dan Prof. Samsul Rizal dari Unsyiah. (ADV)

BACA..  DPRA Ingatkan Pemerintah Aceh Untuk Perbaiki Tata Kelola Pemerintahan