Usman Lamreung: Warga Lingkar PT Medco Butuh Peningkatan Ekonomi Bukan Ceremoni

oleh -182 views

Laporan | Ahmad Fadil

Banda Aceh (AD)- Kehadiran perusahaan minyak raksasa PT Medco di Kabupaten Aceh Timur seharusnya memberikan dampak dan manfaat positif bagi masyarakat yang berada di lingkaran ring satu pada perusahaan Gas Deploment Project milik swasta tersebut.

example banner

“Warga yang terdampak pada eksploitasi gas milik PT Medco, sudah seharusnya diberdayakan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. Alokasi anggaran CSR, jangan sampai warga yang berada di ring satu termaginalkan oleh sistem dan keadaan,” kata Usman Lamreung, Kamis 10 Desember 2020 di Banda Aceh.

Perusahaan gas PT Medco seharusnya sudah mempunyai strategis  program terkait pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Tinggal bagaimana strategi dan program tersebut dapat di implementasikan dengan melibatkan partisipasi masyarakat.

Selama operasi eksploitasi di Aceh Timur, kata Usman, PT Medco sudah banyak melaksanakan berbagai program kepada warga lingkar perusahaan, baik itu program bersifat bantuan, pelatihan dan program pemberdayaan. Salah satu program yang telah di jalankan oleh PT Medco adalah, program Padi Sri Toga dan Sorga, namun program itu gagal dan tidak berjalan.

BACA..  Usman Lamreung: Jangan Biarkan OPD Menyandang Status Plt Terlalu Lama

“Hasil wawancara warga lingkar, Medco pada tahun 2020 ini, ada beberapa program bantuan dan pelatihan yang diberikan kepada warga, yaitu budidaya ubi kayu di Desa Blang Nisam. Kegiatan ini bersifat Charity berupa bantuan masker, westafel (Covid -19), daging meugang ke Stakeholder, serta penimbunan badan jalan desa,” ungkap Usman Lamreung.

Namun, untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat pemberdayaan, masih minim. Program Medco lebih banyak terfokus kepada kegiatan ceremoni semata  dari pada program yang berdampak langsung terhadap penguatan sosial ekonomi dan program jangka panjang lainnya.

“Pihaknya menyarankan PT Medco pada tahun 2021 ini lebih fokus terhadap pemberdayaan warga lingkar yang manfaatnya pada penguatan ekonomi sosial dan beasiswa pendidikan studi lanjut, agar nantinya bisa bekerja di perusahaan tersebut.

“Jangan hanya terfokus pada program dan kegiatan yang tingkat manfaatnya hanya untuk sesaat, namun harus berdampak jangka panjang. Dengan dana CSR yang begitu besar, sudah semestinya warga sekitar perusahaan diberdayakan dengan baik, bukan malah sebaliknya Miskin,” imbuhnya.

Selain itu, Usman menjelaskan, terkait dampak program yang bersifat charity, jangkanya tidak panjang hanya sesaat. Sebagai contoh, program penimbunan jalan desa. Hanya waktu 30 hari setelah di timbun, lubang jalan kembali menganga akibat hujan maupun gerusan banjir dua hari lalu. Demikian juga hal nya dengan program pemberdayaan lainnya, seperti padi Sri tiga dan sorga yang sampai saat ini belum memberikan hasil bagi peningkatan pendapatan warga.

BACA..  Usman Lamreung: Jangan Biarkan OPD Menyandang Status Plt Terlalu Lama

“Bahkan pada masa tanam saat ini, kelompok tani desa Alue Itam (Lokasi program padi sri) kembali ke pola tanma konvensional. Belum lagi terkait program domba yang juga gagal, hilang tak berbekas yang hanya menyisakan kandang kosong di  Desa Alue Patong dan sebuah sekolah di Desa Bandar Baro,” ungkap Usman.

Terkait polusi bau, jelas Usman, berdasarkan hasil kajian dari Tim IPB Bogor, bau tersebut berasal dari proses produksi. “Artinya, kilang tersebut terus berproduksi hingga puluhan tahun, berarti warga lingkar sangat berpotensi mencium kembali aroma bau busuk kedepannya.

Semestinya, Medco mensosialisasikan kepada warga terkait areal proyek (CPP) tentang upaya-upaya apan saja yang dilakukan oleh perusahaan guna meminimalisir emisi (polusi bau) dari proses produksi /operasional kilang gas. Karena menurutnya, setiap proyek tentunya akan berdampak positif dan negatif.

BACA..  Usman Lamreung: Jangan Biarkan OPD Menyandang Status Plt Terlalu Lama

Beberapa dampak negatif yang terjadi dalam dua tahun ini, menurut penilaian Usman, karena belum terkelola secara baik, sehingga dikuatirkan akan menjadi konflik sosial antara perusahaan dan warga lingkar, seperti aksi blokade jalan ROW oleh warga Desa Tepin Raya batu-baru ini yang menyebabkan terganggunya operasional perusahaan.

Belum lagi faktor lainnya yang menjadi akar masalah terjadinya konflik sosial. Diantara konflik tersebut salah satunya adalah, karena tidak tersalurnya aspirasi dan permasalah yang ada di masyarakat. Demikian juga dengan anggaran CSR, polusi bau, air sungai tercemar dan lain sebagainya, sehingga bereskalasi menjadi konflik.

“Berdasarkan hal tersebut di atas, Usman Lamreung berharap, PT Medco harus benar-benar serius menyusun konsep “Grievance Mechanisme” agar warga lingkar terfasilitasi dan warga bisa menyampaikan aspirasi serta kelurahan dengan baik,” demikian harapnya.