Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Marsose di Eropa Sampai Perang Atjeh

oleh -13 views
Foto:tengkuputeh.com

AtjehDaily.id – Sigap, cepat, dan efektif. Begitulah pasukan Marsose (Maréchaussée) Belanda ketika mendesak pasukan Tjoet Nja’ Dhien sampai ke pedalaman Beutong Le Sageu pada suatu hari tahun 1906. Atas bocoran info dari pengkhianat bernama Pang Laot, pasukan Belanda itupun berhasil menangkap Tjoet Nja’ Dhien.

Begitu epilog film Tjoet Nja’ Dhien (1988) garapan Eros Djarot. Perlawanan Tjoet Nja’ Dhien dan mendiang suaminya, Teuku Umar, dapat dipatahkan selain karena pengkhianatan juga karena efektivitas manuver-manuver kontra-gerilya pasukan Marsose.

Bernama lengkap Korps Marechaussee te Voet, unit pasukan khusus Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda itu dibentuk pada 2 April 1890. Marsose dibentuk berangkat dari kebutuhan akan pasukan lebih mobile ketimbang pasukan reguler KNIL. Kebutuhan itu muncul akibat realitas medan pedalaman Aceh yang menyulitkan untuk perang frontal.

Berbeda dari Marsose di Hindia Belanda, Maréchaussée di Eropa atau Amerika Serikat sekadar unit kepolisian militer yang bukan diperuntukkan bagi peperangan gerilya. Sebelum di Hindia Belanda, unit Maréchaussée sudah eksis di Eropa. Ia sejatinya semacam provost atau polisi militer di masa sekarang; atau gendarmerie dalam istilah Prancis, feldgendarmerie (Jerman), Guardia Civil (Spanyol), dan Carabinieri (Italia).

“Sebutan Maréchaussée yang berarti korps polisi berkuda diambil dari istilah militer Prancis, atau kavaleri provinsi di Prancis yang berpatroli sebagai penegak hukum. Lema itu sendiri berasal dari awal Abad Pertengahan: Prévôt des Maréchaux, atau pasukan yang menjaga jalan-jalan kota besar. Pada abad ke-18 Maréchaussée berubah fungsi seperti provost di kemiliteran untuk mendisiplinkan personel dan melakoni eksekusi,” tulis Harry M. Ward dalam George Washington’s Enforcers: Policing the Continental Army.

Di Prancis, Maréchaussée kemudian direorganisasi menjadi Gendarmerie Nationale pada 1791 atau tiga tahun setelah Revolusi Prancis bergulir. Konsep kesatuan sejenis Maréchaussée kemudian dipakai di Belanda, Jerman, Italia, hingga Amerika Utara oleh Jenderal George Washington yang kemudian jadi presiden pertama Amerika Serikat.

“Washington menyadari perlunya disiplin ketat pasukan. Perwakilan luar negeri di Pasukan Kontinental menyarankan dibentuknya Korps Maréchaussée. Panglima tertinggi meminta kepada Kapten Bartholomew von Heer untuk merancangnya dibantu Kolonel Henry Lutterloh. Rancangannya kemudian disetujui Kongres pada 29 Juli 1778,” sambung Ward.

BACA..  Perkuat Soliditas dan Merajut Kekompakan Lanud MUS Ikut Kegiatan Touring di PP Kota Sabang

Keberingasan Maréchaussée di Aceh

Sebagaimana Depot Specialetroepen (DST) yang kemudian berubah menjadi Korps Specialetroepen (KST) sebagai “penerusnya” di periode 1946-1949, Marsose  merupakan pasukan khusus tentara kolonial Belanda. Ketiganya juga sama-sama berdarah dingin dalam melakoni tugas.

“Korps Maréchaussée atau Marsose merupakan prajurit pilihan dari serdadu terbaik. Operasi gerilya lawan gerilya adalah konsep personel Marsose yang mengharuskan prajurit hidup seperti lawannya, yakni para pejuang Aceh di rimba yang buas dan kerapkali harus bertempur satu lawan satu dengan kelewang. Keberadaan Korps Marsose mendahului KST yang kemudian menjadi cikal-bakal Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang kini dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD,” tulis Jean Rocher dan Iwan “Ong” Santosa dalam KNIL: Perang Kolonial di Nusantara dalam Catatan Prancis.

Perang Aceh yang bergulir sejak 1873 menjadi pertempuran terlama dan paling menguras keuangan pemerintah Hindia Belanda dibanding perang-perang kolonial lainnya. Kendati pemerintah mengklaim memenanginya pada 1904, faktanya perlawanan rakyat Aceh masih berjalan sampai Jepang datang tahun 1942 dan menewaskan lebih dari 37 ribu personel pasukan Hindia Belanda.

“Perang Aceh hampir menelan biaya 1 miliar gulden bagi Belanda. Orang Aceh membuat Belanda kehabisan napas,” tulis Pavel Durdik, dokter militer KNIL, dalam catatan hariannya yang dikutip Rocher dan Iwan Ong.

Terlepas dari banyaknya kerugian yang diderita pemerintah kolonial, Perang Aceh sedikit demi sedikit bisa diredam pasukan Maréchaussée berkat efektivitasnyaKelahiran Marsose merupakan perwujudan dari gagasan yang dilontarkan seorang jaksa (beberapa sumber menyebut bekas jaksa) di Kutaraja (kini Banda Aceh) bernama Mohamad Arif (beberapa sumber menyebut Muhammad Syarif).

“Seorang anak Minang yang banyak berjasa membantu Belanda memenangkan Perang Aceh, yakni Muhammad Arif. Dia menjabat jaksa di Aceh sewaktu kedudukan Belanda hanya bertahan. Sekitar 1885 muncullah Muhammad Arif dengan gagasannya. Kumpulkan para sukarelawan dari kalangan tentara, katanya, yang cukup berani mendekati musuh, berani menaklukkannya dalam pertarungan jarak dekat. Mereka harus dipersenjatai dengan senjata tajam seperti orang Aceh, mencari musuh di tempat-tempat persembunyian mereka dan menghancurkan mereka,” ungkap Rusli Amran dalam Padang: Riwayatmu Dulu.

BACA..  UPTD Balai Tekkomdik Gelar Workshop Penyusunan Media Pembelajaran Berbasis Digital

Selain itu, kata Arif, pasukan itu harus dibentuk dengan unit-unit kecil dan persenjataan serta perlengkapan ringan agar lebih mudah bermanuver.

Gagasan itu ia sampaikan kepada Gubernur Militer Aceh Jenderal Henri Karel van Teijn dan kepala staf Kapten Joannes Benedictus van Heutsz. Ketika gagasannya disetujui, termasuk oleh pemerintah pusat di Batavia, hasilnya adalah Marechaussee te Voet. Personil Marsose diambil dari serdadu KNIL pilihan.

“Di bawah persetujuan pemerintah, gubernur jenderal memberi kewenangan membentuk Korps Marechaussee te Voet di Aceh. Korpsnya akan dikomando seorang kapten dibantu seorang letnan dan 12 sersan Eropa. Prajuritnya terdiri dari orang-orang bumiputera yang ditransfer dari KNIL berkekuatan 204 personil,” tulis suratkabar Bataviaasch Nieuwsblad, 13 Mei 1890.

Marechaussee berada di bawah Van Heutsz yang naik pangkat jadi kolonel. Setelah Van Heutsz jadi gubernur militer, KNIL dan Marsose dikomandani Kolonel Gottfried Coenraad Ernst “Frits” van Daalen yang kelak dikenal karena pembantaiannya.

Pemerintah pusat menggelontorkan dana 1.200 gulden per tahun khusus untuk Marsose. Jumlah tersebut dibagi untuk operasional, termasuk untuk menyokong gaji khusus harian para anggotanya. Perwira (kapten dan letnan) Marsose digaji 30 gulden; sersan mayor sebanyak 2,35 gulden; sersan dan bintara, 2 gulden; sersan Ambon, 1,80 gulden; prajurit Afrika, 1,22 gulden; dan prajurit bumiputera, 1,05 gulden.

Karena perwira maupun prajurit Marsose “comotan” dari KNIL, tak ada perubahan masif pada atribut maupun perlengkapan unit itu. Seragam tunic-nya sama seperti KNIL. Perbedaannya hanya terletak pada variasi pengenal, berupa pola garis kuning di kerah dan sakunya. Senjata tajamnya juga kelewang sebagaimana KNIL, namun senjata apinya diberikan yang lebih modern.

“Korps Marechaussee beroperasi dengan pasukan-pasukan kecil yang kurang lebih 18 orang dengan persenjataan kelewang dan karaben repetir pendek (karbin Remington Rolling Block, red.). Setelah tahun 1895 diganti semua dengan karaben baru, (Mannlicher) M95. Pasukan Marsose dilatih perang jarak dekat seperti gerilyawan Aceh. Ditugaskan mencari, mengejar, dan menghancurkan kelompok-kelompok gerilya Aceh di perbukitan, pegunungan, hutan belukar, lembah-lembah pedalaman yang luas. Cara baru ini membawa hasil yang memuaskan kaum kolonialis,” katan matan Pangdam Mulawarman Hario Kecik dalam Pemikiran Militer 1: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia.

BACA..  Lanal Sabang Terus Upayakan Untuk Menghentikan Penyebaran Covid-19

Namun, dalam setiap operasi atau manuvernya, pasukan Marsose acap meninggalkan kekejaman berupa pembantaian. Hal itu tak lepas dari doktrin yang dikeluarkan perwiranya. Para perwira Marsose merespons perlawanan rakyat Aceh dengan membumihanguskan kampung-kampung yang diduga membantu gerilyawan dan menghabisi populasinya yang menolak menyerah pada Belanda.

Salah satu kekejaman Marsose terjadi dalam kampanye Kolonel Van Daalen ke Gayo dan Alas pada 1904. Kampanye itu menewaskan 2.900 jiwa, termasuk 1.150 perempuan dan anak-anak di dalamnya.

Yang paling memancing reaksi keras dari pihak Belanda sendiri terhadap kampanye itu adalah Pembantaian Benteng Kuta Reh (Bloedbad van Koetoh Reh), 14 Juni 1904. Dalam operasi memburu gerilyawan Aceh yang bertahan di Benteng Kuta Reh itu, Van Daalen membawa 241 personil, termasuk 10 perwira Eropa.

Walau kalah persenjataan, gerilyawan Aceh bersama ratusan warga yang terkepung pantang mengibarkan bendera putih. Mereka terus bertahan. Setelah satu setengah jam diserang, mereka akhirnya “disapu bersih”. Total 563 gerilyawan dan sipil, termasuk 189 perempuan dan 59 anak-anak, tewas di benteng itu.

Sejak saat itu Marechaussee kondang akan kekejiannya hingga ia bubar seiring masuknya Jepang pada 1942. Tak hanya di Aceh, tapi juga di Sumatera Utara.

“Pada watu itu timbul suara di Tweede Kamer Belanda yang mengutuk tindakan Van Daalen, seperti Victor de Stuers, sebagai pembunuhan massal yang biadab. Tetapi Perang Aceh tetap dilanjutkan karena masih menguntungkan kelompok kapitalis baru. Para kapitalis birokrat ini mendapatkan uang banyak dari pembelian atau produksi senjata dan perlengkapan baru,” tandas Hario Kecik.

Sumber: historia.id