Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Ditangan Gubernur Syamsuar dan Edy Natar Nasution Riau Belum Ada Perubahan

oleh

Sabang (AD) Umur provinsi Riau pada tahun 2021 ini sudah berusia 64 tahun namun sejak 3 tahun terakhir atau selama pucuk kepemimpinan ditangan Gubernur Syamsuar dan Wakilnya Edy Natar Nasution belum terlihat perubahan berati. Terutama dari sisi pembangunan dan kesejahteraan rakyat, provinsi yang dijuluki penghasil gas bumi dan minyak sawit ini., demikian disampaikan mantan anggota DPRD Riau, politisi PAN H. Musyaffak Asikin, Senin (9/8/2021) di Sabang.

Menurut mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau yang kini menjadi pengusaha transportasi laut antar pulau Sabang – Banda Aceh ini, dirinya ikut latah melihat perkembangan pembangunan dan kesejahteraan rakyat negeri kelahirannya itu.

Pasalnya kata pengusaha penyabar ini, selama tiga tahun ke belakang atau sejak ranah yang dihimpit provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Jambi itu dinahkodai oleh Gubernur Syamsuar bersama Wakilnya Edy Natar Nasution, roda ekonomi dan kondisi pembangunan provinsi Riau berjalan tertatih-tatih.

“Hari ini provinsi Riau genap berumur 64 tahun saya hanya bisa mengucapkan tahniah Milad saja, karena yang lainnya belum ada perubahan yang berarti. Saya berharap kiranya saudara Syamsuar – Edy Natar Nasution, dapat mengambil makna dengan mengevaluasi kinerjanya. Semestinya pada tahun ke 3 mereka memimpin ada kado yang dipersembahkan bagi rakyat Riau,” ungkapnya.

Seperti dilansir Lamanriau.com H. Musyaffak Asikin dirinya mengaku meskipun tidak sedang berada di Riau namun walau “Jauh Dimata Tetapi Tetap Dekat Hati’ dengan selalu memantau perkembangan provinsi kelahirannya. Konon lagi, dirinya sendiri pernah duduk mewakili rakyat Riau di DPRD, kata H Musyaffak, sembari mengenang Riau tercinta.

Ia menilai bahwa, polesan tangan Syamsuar dan Edy Natar Nasution dalam visi dan misi keduanya terhadap pembangunan ke arah kesejahteraan rakyat belum terlihat secara nyata, terutama ke sisi hal-hal yang menyentuh kepada kepentingan rakyat. Misalnya, tentang infrastruktur, kesejahteraan dan kesehatan rakyat alkhusus bagi desa-desa di pendalaman.

“Kepada Gubernur vs saya berpesan kirnya jangan mencari pemanis dengan pencitraan yang dimunculkan ke publik. Karena rakyat tidak membutuhkan pencitraan, yang diinginkan rakyat perbuatan nyata. Masyarakat pendalaman mengeluh terhadap pembangunan jalan yang banyak rusak, seperti desa-desa di Indragiri Hilir, Kampar, Bengkalis dan hampir seluruh Kabupaten, termasuk jalan penghubung Kotabaru Kecamatan Keritang, sejak dulu sampai sekarang tidak ada perhatian Syamsuar cs,” tuturnya.

Itu belum lagi hal lainnya kata H. Musyaffak Asikin, dimana penangan kasus pandemi Covid-19 Provinsi Riau, dinilai juga gagal total. Pasalnya, hingga saat ini angka kasus positif terus naik. Sejumlah daerah di Riau masuk pada kategori zona merah. Sehingga, provinsi Riau sampai saat masih terus diperpanjang kan PPKM.

“Kenapa saya katakan gagal total dalam penganan covid-19 di provinsi Riau. Sebab PPKM masih terus diperpanjang kan dan pada akhirnya akan berdampak pada kesengsaraan rakyat” kata H. Musyaffak, sambil menggeleng-geleng kepalanya.

Oleh karena itu ia meminta kepada Gubernur Riau Syamsuar dan Edy Natar, keduanya mengakui atas kelemahan yang terjadi selama 3 tahun kepemimpinannya serta siap untuk mengevaluasi. Dengan tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan membawa-bawa alasan Covid-19 sebagai kunci untuk menutupi kelemahannya.

“Jangan jadikan Covid-19 sebagai alasan pembangunan tidak berjalan dengan baik dan ambil makna serta makna kelemahan yang telah terjadi. Bangkit lah kembali dengan menunjukkan kinerjanya yang berpihak bagi rakyat,” pinta H. Musyaffak Asikin.(Red).