banner 700250

Putusan Hakim Mahkamah Syariah Lhoksukon Diduga Menyimpang

oleh -279 views
Saiful Mahdi

Aceh Utara (AD) – Putusan Hakim Mahkamah Syariah Lhoksukon Nomor 24/Pdt.G/2019/MS.Lsk dalam menyelesaikan perkara hak waris antara Saiful Mahdi melawan Ayah tirinya Muhammad Manyak (Ahmad Nek) diduga tidak memenuhi asas-asas keadilan. Hal ini dikatakan Saiful Mahdi, Senin (28/8) kepada wartawan AtjehDaily.id.

Saiful menggugat hak waris atau harta bersama milik Almarhumah Ibunya yang bernama Salamah, selama menikah dengan Ayah tirinya.

Dalam putusan tersebut Hakim menolak gugatan Saiful Mahdi, karena tidak dapat membuktikan hubungan hukum antara Ibu Salamah dengan Ayah tirinya.

Saiful menjelaskan “Padahal saya sudah melengkapi alat bukti yang cukup kuat seperti Lampiran Akta Nikah Tahun 1971 dan Duplikat Buku Nikah No.154/1971/VIII/2014”. Ujar Saiful sambil memperlihatkan bukti tersebut kepada wartawan.

Sambungnya, selain itu saksi-saksi dalam sidang peradilan dengan jelas mengakui bahwa Ibu Salamah merupakan pasangan suami-istri yang sah (punya hubungan hukum) dengan Ahmad Nek.

Sementara itu, Sayyed Sofyan Ketua Mahkamah Syariah Lhoksukon pada Rabu (02/09/2020) terkait perkara gugatan tersebut mengatakan “Lembaga peradilan ini tidak ada kepentingan apapun dalam memutuskan perkara, kecuali menerima laporan, memeriksa, dan mengadili sesuai fakta dan kenyataan”.

Sayyed melanjutkan, apabila para penggugat dan tergugat tidak merasa puas dapat menempuh jalur hukum selanjutnya yaitu mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Agama di Banda Aceh. Jika masih tidak merasa puas maka ada upaya hukum selanjutnya yaitu mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung RI.

Dikonfirmasi secara terpisah, Anwar anak kandung dari Ahmad Nek pada Rabu (02/09/2020) menjelaskan “Tidak bisa kita pungkiri bahwa benar Ibu Salamah adalah pasangan suami-istri sah dengan Ahmad Nek, mereka pernah bercerai kemudian rujuk kembali hingga Ibu Salamah meninggal dunia”.

Sambung Anwar, kita sudah mengupayakan penyelesaian perkara tersebut secara kekeluargaan, namun Saiful lebih memilih untuk menempuh jalur hukum.

Saiful Mahdi menambahkan, “Saya rasa fakta-fakta hukum yang menjadi dasar pertimbangan dalam memeriksa dan mengadili suatu perkara telah dikesampingkan oleh Hakim, sehingga melahirkan putusan yang nyaris menyimpang”.

Hakim kurang cermat dalam memeriksa alat-alat bukti sehingga dengan berani memutuskan hubungan Ibu saya dengan Ahmad Nek, ini keliru besar. Lembaga peradilan harusnya menjadi penengah dalam mengambil suatu putusan, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. Ujar Saiful dengan kesal. (MRZ).