Aktifis Pro Kemerdekaan Gelar Puisi ‘Ninabobo’ Korban Konflik

oleh -90 views
Shadia Marhaban. Foto: lakilakibaru.or.id
Shadia Marhaban. Foto: lakilakibaru.or.id

BANDA ACEH | AP-Grup eks aktifis pro kemerdekaan Aceh, Shadia Marhaban menggelar teater dan seni drama dengan tema ” Membangun Cinta dengan Korban Konflik Aceh “, Rabu 7 September 2016 di Banda Aceh.

Acara yang dihadiri sekitar kurang lebih 100 orang, diantaranya aktivitas, korban konflik, seniman Aceh serta perwakilan mahasiswa di Banda Aceh. Dalam kegiatan tersebut turut hadir dua orang korban konflik yaitu, Ibu Umi asal Lhokseumawe dan Andri Merisa dari Lamno Aceh Jaya.

Fauzan Santa (Monolok Seni Drama dan Sastra) yang membacakan buku salah satu tahanan menulis tentang perdamaian, permasalahan konflik yang nantinya sebagai media untuk menghormati kemerdekaan.

“Acara kami tidak lupa bertujuan untuk menciptakan wadah bagi para korban komplik Aceh dengan makna-makna yang non materil tapi lebih kepada gerakan spiritualisme dan non materialisme permainan dari gerakan ini adalah untuk menciptakan sebuah rasa kebersamaan dalam bentuk yang lebih bermartabat apresiasi dalam bentuk persaudaraan perasaan diakui didengar dan jauh dari pemikiran kuasa dan hawa nafsu,” ujar Shadia Marhaban, mantan Istri wartawan AS, William Nelsen dan eks petinggi GAM Nur Juli.

Acara ini digelar beberapa kali sebagai ungkapan bahwa memory periodik transfer menjadi spiritualisme dalam mengingat korban konflik Aceh karena selama ini jika bicara tentang konflik di Aceh maka yang tersirat hanyalah sebuah kehampaan dan ketidakmenentunya iklim politik pasca perdamaian di Aceh.

“Hawa nafsu untuk mendapatkan suatu bentuk materi lebih berkuasa dari segalanya sehingga rasa hati sudah tidak merasakan lagi walaupun korban mayoritas berasal dari keluarga yang kurang mampu sehingga ada ide tuntutan ekonomi menjadi persyaratan pengakuan kompensasi tentunya hal ini bukanlah tunggal karena manusia tidak semata didasari pada pengakuan materiil saja,” kata aktifis Pro Kemerdekaan itu meninabobokan korban konflik yang sangat kejam itu.

Sambung Shadia, yang juga mantan Salahuddin Alfata itu, perasaan didengar dan pengakuan terhadap keabsahan cerita korban tangisan dan jeritan korban karena kehilangan orang-orang yang dicintai menjadi suatu bentuk kekuatan baru bahkan bisa ditransfer dalam membangun semangat humanisme secara eksternal dan spiritualisme kirana internal.

“Sengaja acara ini kami tidak kemas dalam bentuk yang serius seperti seminar FGD dan sebagainya karena umumnya para korban sudah mencapai titik jenuh berkumpul bercengkrama bersama dalam bentuk sebuah acara kopi sore menjadi luapan kegembiraan yang tiada kira apalagi diselingi dengan suguhan budaya yang bisa menciptakan sebuah rasa kebersamaan dalam suka dan duka kerinduan berkumpul bersama dan bersilaturahmi menjadi penawar hati yang cukup kuat, ” ujarnya.

Shadia percaya pada kekuatan narasi dan cinta bahwa manusia pada dasarnya ingin didengar dan bertegur-sapa.

“Kekuatan cinta inilah yang membawa kami untuk tetap berkonsisten menjaga  ruang ruang hati agar tidak saling menodai,” ujar Shadia berpuisi (Ar/Alan)