Sepenggal Kisah di Negeri Seribu Bukit

oleh -2.019 views

Feature | Syawaluddin

BLANGKEJEREN (AD) – Karim 42 tahun, beringsut dari Jonder (tractor sawah) yang dikendarainya ketika terperosok dalam kubangan lumpur dibadan jalan dari Ibukota Kecamatan Pining menuju Kampung Lesten, Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Yang berjarak 18 kilometer kearah barat laut.

example banner

Tractor bantuan pemerintah yang seyogianya digunakan untuk membajak sawah, dialihfungsikan menjadi alat transportasi dari dan ke Pining menuju Lesten, sebab badan jalan layaknya sawah dan tak mampu dilalui oleh kendaraan lain, selain Jonder dan Sepeda Motor yang sudah dimosifikasi.

Setiap hari, Karim dan Jondernya bergumul dengan kubangan lumpur yang memenuhi badan jalan. Dia membawa barang belanjaan sembako masyarakat kampung Lesten.

Karim merubah Jonder itu dengan menambah bak sebagai tempat duduk penumpang dan tempat barang belanjaan didepan dan belakang Jonder. Setiap harinya tak kurang dari 15 orang penumpang bersatu dengan barang bawaan masyarakat kampung Lesten.

“Tak jarang saya harus bermalam, manakala hujan tiba tiba menerpa kami dalam perjalanan menuju Kampung Lesten. Lama perjalanan bisa dua hari menuju Kampung eks isolasi penderita Kusta akut, sebab medannya terlalu berat. Begitupun kita sudah siapkan semua, seperti tenda, kuali, piring, periuk, beras dan perlengkapan lauk pauknya untuk dimasak,” jelasnya mengenang perjalanan dia dan masyarakat dari Pining menuju Lesten.

Itu sekilas kenangan perjalanan panjang yang melelahkan, Karim; bersama Jonder dan para penumpangnya, dari 2006 hingga 2017. Sebelas tahun Karim melakoni kubangan lumpur yang menemani hari harinya, hingga perjuangan panjang untuk mendapatkan jalan beraspal berhasil dan terbangun.

Kini, warga Lesten bisa sumringah menikmati indahnya jalan beraspal hasil perjuangan mereka, merengek minta kepada Pemerintah. Selama puluhan tahun lalu.

Kampung Lesten berada 400 meter Diatas Permukaan Laut (Dpl), berpenduduk 82 Kepala Keluarga atau 250 jiwa. Income Perkapitanya, Kopi, Pinang, Coklat, Karet, Jagung, Kemiri dan Sere Wangi.

Hari ini hasil komoditinya sudah bisa dibawa keluar dari Lesten menuju Pining dan ke Blangkejeren untuk dipasarkan, tanpa harus menggunakan Jonder lagi.

Perubahan serta penantian panjang akses masuk membuahkan hasil, Karim dan warga Pining dan Lesten tersenyum ceria. Potret suram beberapa waktu lalu di Negeri Seribu Bukit pupus sudah.

BACA..  Mukhtaruddin Maop Laporkan Akun FB "SM" Ke Polda Aceh

Cegah Ilegal Logging Bangun Pos Pengaman
Jauh sebelum jalan tembus Pining – Lesten dibangun, ada satu lembaga, sudah menjaga keseimbangan ekosistim didaerah tersebut, lembaga itu bernama Harimau Pining. Pengakuan Karim kepada penulis, Harimau Pining sudah melakukannya. Keseimbangan ekosistim hutan juga Daerah Aliran Sungai (DAS) Lawe Alas.

Cerita Karim, menarik untuk diikuti, apalagi mantan seorang publik pigur diwilayah Pining tersebut. Dia bersama teman-temannya membuat aturan yang tak tertulis, tetapi diamini oleh penduduk setempat.

Aturan itu tentang penangkap ikan di sungai menggunakan bahan peledak, racun dan setrum. Jika penduduk setempat kedapatan menangkap ikan menggunakan cara – cara seperti tersebut diatas akan didenda satu ekor kerbau.

Aturan itu dipatuhi oleh penduduk setempat, dan itu sudah berjalan sepuluh tahun lalu hingga saat ini. “Ini bukan aturan tertulis, tapi semacam resam lisan yang mengikat dan didukung oleh tokoh dan pemangku jabatan,” katanya.

Untuk menjaga hutan, karim dan teman teman pernah membangun pos pemantau ilegal logging, mereka terkendala dengan navigator dan pendukung lain, sehingga itu tidak bertahan lama.

Dirinya menjamin tidak terjadi praktek ilegal logging disepanjang delapan kilometer jalur baru jalan tembus dilintasan Lesten – Blutan kecamatan Tamiang Hulu; Aceh Tamiang.

Selama pihak pihak yang berkompeten memberi kepercayaan kepada lembaga Lingkungan setempat untuk mengawasi praktek ilegal logging, “Tapi beri kami fasilitas dari kedua belah pihak (Aceh Tamiang dan Gayo Lues) alat pendukung untuk mengawasi hutan, kami siap,“ tegas Karim.

Bangun pos – pos pengamanan dibeberapa titik yang dianggap strategis sebagai alat pengawasan baik dari Pemerintah Gayo Lues juga Pemerintah Aceh Tamiang.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh dan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) beri kesempatan dan kepercayaan bagi lembaga setempat untuk berbuat bagi kepentingan daerah.

“Biarlah jalan tembus Lesten – Aceh Tamiang tersebut dibangun, sebab dengan dibangunnya akses itu mampu mendongkrak perekonomian masyarakat setempat dan memotong jalur cepat menjual komoditi ke Aceh Tamiang dan Sumatera Utara,” pungkasnya.

BACA..  Aktivis Mahasiswa UIN Desak BEM Se Aceh Klarifikasi Dana Hibah Refocusing

Rasa Kemanusiaan itu Hanya Pada Hewan
Mantan Kepala Mukim, kemukiman Pining. Amin PP 57 tahun; dengan lugas menampar para praktisi aktifis lingkungan dengan kata – kata ‘Prikemanusiaan itu lebih kepada hewan bukan manusia’ yang protes terhadap pembangunan jalan tembus Lesten – Pulau Tiga.

Sebab, Amin menilai ada proses penghambatan yang dilakukan oleh pegiat lingkungan di Aceh dan Sumatera Utara. Sebab jalan yang dibangun tersebut melintasi Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan Kawasan Ekosistem Leuser di Gayo Lues dan Aceh Tamiang.

Padahal, menurut Amin; dengan dibukanya jalan tersebut akan memudahkan akses keluar masuk dari dan ke Kabupaten Gayo Lues – Aceh Tamiang dan satu satunya jalan tembus terdekat menuju Aceh Tamiang dan ke provinsi Sumatera Utara.

Dia mengakui kalau masyarakat disekitar wilayah kecamatan Pining belum pernah ada pihak pihak yang membuat serta melakukan sosialisasi, terutama itu, tentang batasan – batasan TNGL dan KEL, mana Hutan Adat dan kawasan yang dibenarkan untuk melakukan aktifitas ekonomi.

“Mereka selalu mengatakan ini dilarang dan itu tidak boleh ditebang. Lalu muncul pertanyaan, siapa lebih dahulu masyarakat atau penetapan kawasan TNGL diwilayah kami ini, dari zaman dulu Pining ini sudah ada, malah dulu hukum adat yang kami tahu,” jelas Amin PP.

Tak hanya itu, Amin juga mengkritisi pelaku aktifis lingkungan, kekesalannya muncul karena larangan pembangunan jalan tembus tersebut melintasi hutan lindung dan KEL. Dia mengatakan bahwa ‘Prikemanusiaan itu tidak lagi pada insan, lebih kepada kepentingan untuk melindungi hewan’.

“Coba jelaskan, mana Hutan Lindung dan mana yang Hutan Rakyat. Jika ini sudah dilakukan sosialisasi saya yakin masyarakat tahu mana batasan – batasan yang boleh dan yang mana yang dilarang. Sepengetahuan saya belum pernah ada sosialisasi tentang ini,” kata Amin.

Tak hanya itu, dia minta tunjukan batasan – batasan TNGL terutama patok – patok yang menyatakan itu adalah batas TNGL. “Kalau kita tanya kepada mereka, mereka sendiri tidak tahu mana patok – patok yang dimaksud,”.

Amin minta, jika semua larangan tersebut jelas dilengkapi dengan peta dan aturan yang mengikat, lalu lakukan sosialisasi apa yang menjadi pelarangan dalam aturan, dia yakin masyarakat pasti akan patuh.

BACA..  Dukung Vaksinasi Covid -19 di Aceh, BPJS Kesehatan Sinergikan Aplikasi P-Care

Apalagi jalan tembus itu sangat dibutuhkan masyarakat untuk melepaskan kehidupan ekonomi yang lebih mapan dari keterisoliran akses keluar dan masuk dari Pining menuju Lesten dan ke Aceh Tamiang.

Jalan tembus Pining – Lesten – Pulau Tiga merupakan jantung perekonomian baru, bagi masyarakat di tiga wilayah itu untuk membawa hasil bumi mereka keluar dari Pining dan Lesten ke wilayah Aceh Tamiang dan Sumatera Utara. Sebab jalur itu lintasan terdekat diwilayah timur Aceh.

Mudah Menjual Komoditi
Secara umum, Jembatan dan Akses yang baik akan meningkatkan income perkavita penduduk suatu wilayah secara cepat. Sebab sentra produksi penghasil komoditi setempat dapat dengan mudah diangkut keluar untuk dijual.

Lalu membuka wilayah – wilayah sentra produksi baru yang dahulunya merupakan wilayah terisolir. Agaknya kalimat diatas menggambarkan kondisi, Kasmin 60 tahun, warga Kampung Lesten petani jagung yang sesaat lagi akan panen.

Dia membuka ladangnya kembali saat jembatan Baylle dibangun dan dirsmikan Plt Gubernur Aceh beberapa waktu lalu. Sebelumnya Kasmin membuka ladang jagung hanya 2 rante, tapi setelah ada akses, dia membuka kebun jagung seluas tiga hektar.

Sesaat lagi kebun jagung milik Kasmin sudah dapat dipanen, kata dia, pasar tujuannya adalah Aceh Tamiang, sebab sudah bisa ditembus meski masih memakai sepeda motor.

“Saya sangat berterima kasih kepada TNI yang sudah membuka jalan tembus Aceh Tamiang – Lesten melalui program Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD), sebab pasar terdekat menjual hasil bumi kami adalah Aceh Tamiang,” katanya.

Dia sangat memohon kepada pihak – pihak yang mengkritisi jalan tersebut agar melihat kepentingan masyarakat secara luas dari berbagai aspek.

Menurut Kasmin, jalan tembus tersebut sudah terlambat dibangun, jika dari dahulu, Lesten tidak lagi terisolir dan menjadi daerah maju dan berkembang dengan andalan hasil buminya, Jagung, Sere Wangi, Karet dan Coklat. “Bantulah kami pak, kami ingin maju dan berkembang layaknya daerah lain,” pungkasnya kepada penulis.